Video Game Mengorganisasikan Kembali Otak Anda

Video game memang memberikan efek dua sisi mata koin, negatif dan positif di dalamnya. Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa video game memang mampu melatih kemampuan berbahasa, motorik halus, bahkan kemampuan koordinasi mata-tangan yang lebih baik. Tetapi ternyata penelitian membuktikan bahwa efek positif video game tidak hanya pada kemampuan yang terlihat di luar saja. Video game memberikan gamer sesuatu yang lebih.
Para ahli yang sering melakukan penelitian terhadap efek video game sendiri mengakui bahwa video game memang meningkatkan kemampuan koordinasi mata-tangan. Kebiasaan gamer yang melihat terus-menerus ke arah layar televisi sementara tangan terus bergerak menekan tombol pada kontroler saat bermain game diyakini menyebabkan peningkatan kemampuan itu.
Untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh para gamer sehingga peningkatan kemampuan koordinasi ini terlihat jelas, para peneliti dari Centre for Vision Research at York University in Canada berusaha mencari penyebabnya. Dan tidak tanggung-tanggung, mereka melakukan penelitian selama bertahun-tahun.
Mereka membuat dua kelompok subjek yang masing-masing berisikan 13 orang yang menjadi sampel penelitian. Satu kelompok diminta untuk bermain game minimal empat jam seminggu selama tiga tahun terakhir, sementara kelompok yang lain tidak bermain game. Setiap sampel dari 26 orang ini (dua kelompok) ini kemudian diminta untuk masuk ke dalam mesin fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging Machine) dan diminta untuk menyelesaikan soal-soal visualmotor yang cukup sulit.
Lauren Sergio, professor Faculty of Health at York University menjelaskan bahwa dengan mesin fMRI ini, peneliti dapat melihat bagian otak mana yang aktif ketika mengerjakan tugas visualmotor yang sulit ini. Semua ini dilakukan untuk melihat bagaimana kemampuan yang didapat dari pengalaman bermain video game dapat diadaptasikan di dalam tugas yang berbeda. Lalu apa hasilnya?
Secara mengejutkan, penelitian menemukan bahwa kelompok sampel yang TIDAK bermain game memperlihatkan aktivitas otak yang lebih di bagian parietal cortex, bagian otak yang diasosiasikan dengan koordinasi mata-tangan. Sementara kelompok yang SUDAH berpengalaman bermain game, memperlihatkan aktivitas otak yang meningkat di prefrontal cortex yang terletak di otak bagian depan.

Intinya? Ternyata otak gamer itu adalah otak yang special! Dengan terus mengerjakan tugas visualmotor yang didapatnya dari bermain game, otak gamer mengubah cara otak mengelola aktivitas visual motornya, berbeda dengan otak biasa. Dan tentu saja membantu menghasilkan koordinasi visual-motor yang lebih maksimal.
Penelitian ini membawa harapan baru bagi para penderita Alzheimer yang sering kesulitan untuk melaksanakan fungsi visualmotorik nya. Jika bermain game menjadi salah satu terapi yang menjanjikan, kenapa tidak?

Jika Anda seorang gamer, sama seperti halnya saya, dengan bangga kita bisa teriakkan : We are Special!














