[PR] ESET: TDL4, Malware Generasi 4 yang Gigih

Reading time:
July 5, 2011

Jakarta, 04 July 2011. Malware yang menyebar luas melalui internet dan perangkat lain seperti flash disk saat ini tidak lagi merupakan aplikasi yang sekali muncul lalu mati. Malware juga ber-regenerasi dengan selalu muncul dalam bentuk dan varian baru dalam bentuk yang lebih kuat, lebih canggih. TDSS botnet, adalah salah satunya. TDSS botnet kini muncul dengan varian terbaru yaitu varian generasi ke 4, yang lebih berbahaya, dan lebih canggih.

TDSS atau juga dikenal dengan TDSS/TDL, atau Win32/Olmarik, menginfeksi komputer dan kemudian menerima perintah dari sebuah C& C server. Proses selanjutnya Win32/Olmarik. AVA zombies saling bekromunikasi dengan menggunakan Kademilia DHT (distributed hash table) peer-to-peer protocol. Dengan pola ini, masing-masing berperan sebagai  C & C Server dan Client.

Bagaimana kerja masing-masing komponen tersebut, David Harley, Director of Malware Intelligence, ESET memaparkannya sebagai berikut.

Ketika sebuah PC terinfeksi oleh bot, komputer tersebut secara otomatis akan menjadi bagian dari jaringan bersama dengan komputer-komputer lain yang juga telah terinfeksi dan terkoneksi dengan C & C Server yang kita kenal sebagai botnet. Kemudian, pelaku kejahatan yang mengelola botnet tersebut perlu mengirimkan instruksi-instruksi ke malware di masing-masing komputer yang telah terinfeksi tersebut (zombie). Tentu saja ada kalanya komunikasi yang dilakukan terhambat atau gagal tergantung dari botnet yang digunakan.

Jika komunikasi yang dikirimkan dalam bentuk instruksi tersebut berhasil maka akan mengirimkan data yang diinginkan oleh ke “botmaster”.  Salah satu cara yang umum digunakan dalam komunikasi dua arah pada botnet adalah dengan men-setting beberapa komputer yang akan berperan sebagai “Command & Control” (C&C) server: server ini adalah versi jahat dari client/server model, dimana satu server akan melayani banyak komputer klien.

Melemahkan jaringan botnet bisa dilakukan salah satunya dengan melacak dan mematikan beberapa atau seluruh server C&C yang mengirimkan informasi ke komputer zombie yang telah terinfeksi dan memberikan instruksi yang harus dilakukan, kemudian jika server tersebut dimatikan, komputer zombie yang terkoneksi ke komputer server tidak lagi bisa berfungsi mengirimkan data atau melakukan seperti yang diinstruksikan oleh botmaster.

Dengan menggunakan Kademilia protocol, botmaster akan mampu meyatukan kelemahan dari pendekatan C & C, kemudian dengan menggunakan pendekatan kesamaan diantara masing masing komputer sebagai C & C server maupun zombie atau client yang telah terinfeksi. Semua botnet menggunakan perverted form of distributed processing, tetapi pendekatan yang digunakan TDL4 atau Win32/Olmarik tersebut yaitu dengan manggunakan Kademilia protocol bisa melakukan distribusi data secara lebih baik.

Setelah menguasai sebuah jaringan dengan beberapa komputer berikut semua informasi yang dimiliki, lalu informasi yang berhasil dicuri akan disebar ke komputer dalam jaringan. Botnet tidak begitu saja berhenti bekerja meskipun hanya tinggal satu komputer sementara komputer yang lainnya dalam jaringan botnet tersebut mati.

Zombie masih bisa mendapatkan informasi dari jaringan lain yang terdekat, proses tersebut masih bisa dilakukan karena bot masih menyimpan semacam virtual phonebook yang disembunyikannya di hard disk. Saat bagi bot untuk berkomunikasi dengan C&C server adalah ketika jumlah komputer dalam jaringan turun hingga dibawah 10.

Maraknya infeksi botnet yang menyerang komputer, bahkan juga komputer jaringan menimbulkan dampak kerugian bagi user. Mengomentari kondisi demikian, Yudhi Kukuh, Technical Director dari PT. Prosperita-ESET Indonesia menyampaikan “menghalau TDSS/TDL, dengan segala macam jebakannya untuk menginfeksi system 32bit ataupun 64bit ataupun mengalahkan botnet bukan pekerjaan mudah. Oleh sebab itu, para user baik home user maupun jaringan perlu memiliki kesadaran untuk mengaktifkan, mengupdate secara berkala security system dalam komputer maupun server jaringan”.

Share
Load Comments

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 29, 2026 - 0

Review Lenovo Legion Pro 5i Gen 10: Laptop Gaming Premium dengan RAM 32 GB Paling Worth It?

Ini adalah laptop High Performance kelas atas yang super worth…
October 28, 2026 - 0

Review HP Omnibook Ultra 14 (2026): Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal

Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah!…
October 26, 2026 - 0

Review Infinix XBOOK 14 Neo: Laptop 2026 yang Terjangkau, Ringan, dng Warna Bodi Ceria

Laptop dengan nama “NEO” ini ternyata harganya mulai dari 7…
October 23, 2026 - 0

Review Axioo Hype Ai 5 (G3): Kencang & Irit dgn Intel Core Series 3 Wildcat Lake, Harga Terjangkau!

Ini salah satu laptop “Core 5 Series 3” paling terjangkau…

Gaming

October 29, 2026 - 0

Sony Hadiahkan US$50 Ribu Untuk Hacker Penemu Komponen Jailbreak

Sony membayar hadiah US$50.000 untuk hacker yang melaporkan celah keamanan…
October 29, 2026 - 0

Epic Games Akan Latih AI Untuk Dukung Unreal Engine

Epic Games akan mengubah EULA Unreal Engine agar game yang…
October 29, 2026 - 0

Nintendo Switch 2 Lite Dikabarkan Pakai Chip Samsung yang Hemat Daya

Nintendo Switch 2 Lite dirumorkan memakai platform Samsung 8LPU+ yang…
October 29, 2026 - 0

Capcom Matikan Server Street Fighter V Demi Atasi Masalah Keamanan

Capcom matikan server Street Fighter V dan hentikan penjualan di…