[Infographic] Big Data dalam Formula 1
Berkontribusi terhadap lonjakan jumlah data yang dikenal sebagai fenomena Big Data merupakan kegiatan sehari-hari setiap konsumen, khususnya yang aktif dalam media sosial. Namun, fungsi yang diraih menggunakan data tersebut bukanlah topik yang menarik bagi konsumen, bahkan mereka yang memiliki kedekatan dengan tren-tren di industri TI.

Ternyata manfaat Big Data tidak hanya bisa dipanen oleh perusahaan teknologi. Industri otomotif, khususnya dunia motorsport pun dapat memanfaatkan lonjakan data tersebut. Sebagai contoh, ajang Formula 1 yang baru-baru ini diselenggarakan di kota Austin, Texas. Tidak sekadar mengetahui pembalap yang meraih posisi pertama di akhir putaran, data yang dihasilkan sepanjang ajang berlangsung mampu membantu masing-masing tim memperbaiki performa mobil dan pembalapnya.
Beragam revolusi terjadi dalam ajang F1, seperti penggunaan girboks sekuensial semiotomatis dan paddle-shift pada tahun 1989, keterlibatan teknologi KERS 20 tahun setelahnya, serta sistem drag-reduction pada tahun 2011. Kini, masing-masing mobil F1 dilengkapi 130 sensor yang mampu menghasilkan cukup banyak data untuk mengisi sejumlah buku telepon di akhir ajang balap yang berlangsung selama dua jam.
Data-data yang dipanen dari sensor tersebut antara lain performa maksimum mesin F1, jarak masing-masing lintasan balap, hingga total jarak yang ditempuh setiap pembalap per tahun. Sebagai contoh, kecepatan maksimum mobil F1 yang mencapai 350km/jam dalam putaran mesin 18.000 rpm yang menghasilkan tekanan sebesar 5G. Selain itu, terhitung sekitar 200.000 liter bahan bakar digunakan oleh setiap tim untuk menguji 50 pengaturan mesin di sirkuit dan kondisi cuaca yang berbeda.
Satu data yang paling menarik adalah total jarak yang ditempun masing-masing pembalap F1 dalam kurun waktu satu tahun, yaitu 160.000 km atau sama dengan mengitari bumi sebanyak empat kali. Untuk contoh lainnya, berikut infographic yang disuguhkan NetApp.















