Dua Raksasa IT Cina Berniat Beli BlackBerry?

BlackBerry telah mengumumkan adanya kemungkinan menjual perusahaannya. Tampaknya, tidak banyak peminat yang mau membeli perusahaan asal Kanada itu. Namun tidak menutup kemungkinan masih ada beberapa pembeli, di antaranya para pembuat handset asal Asia. Pembeli tersebut terutama dari Cina yang tengah bersemangat untuk mengembangkan lagi secara global di lini smartphone, yakni Lenovo dan Huawei.
Keduanya memang mencoba untuk fokus di luar bisnis inti mereka. Lenovo dikenal sebagai pembuat PC terbesar di dunia, sementara Huawei sebagai pemasok perlengkapan komunikasi terbesar kedua di dunia. Lenovo maupun Huawei memang tengah berusaha meningkatkan ekspansi bisnis smartphone-nya agar sukses di luar Cina. Keduanya pun memiliki dana akuisisi, jika mereka ingin.
Dilansir dari Wall Street Journal, Huawei memang belum pernah melakukan akuisisi besar selama 25 tahun berdiri. Akan ada resiko bila semua teknologi BlackBerry dan para teknisinya di Kanada terintegrasi dengan Huawei. Terlebih, beberapa waktu lalu parlemen Amerika Serikat menuduh Huawei sebagai ancaman keamanan nasional karena memiliki kedekatan dengan pemerintah Cina. Hal ini semakin tidak mungkin, akusisi BlackBerry bakal terjadi. Juru bicara Huawei menolak berkomentar atas spekulasi pembelian BlackBerry ini.
Berbeda dengan Huawei, Lenovo tanpa malu mengatakan, akuisisi diperlukan untuk menumbuhkan bisnis smartphone. Lenovo sendiri pada 2005 silam telah mengakuisi International Business Machines (IBM). Sayangnya, juru bicara Lenovo juga enggan berkomentar menyoal pembelian BlackBerry.
“Itu selalu menjadi tujuan Kami untuk menemukan perusahaan yang, jika terintegrasi dengan Lenovo, secara efektif akan menopang pertumbuhan organik perusahaan dan menghasilkan sinergi baru yang meningkatkan bisnis kami secara keseluruhan, serta pengembalian modal.” ujar juru bicara Lenovo menyiratkan.
Kepala unit penelitian teknologi CLSA Asia Pasifik, Nicholas Baratte pesimis, Lenovo bakal tertarik membeli BlackBerry. Menurutnya, BlackBerry tidak memberi keuntungan yang cukup bagi Lenovo. Ini mengingat BlackBerry tidak lagi memiliki kekuatan yang jelas dan pangsa pasar pun terus anjlok dengan cepat. “Segala upaya pembeli Cina untuk mengintegrasikan operasi perusahaan bermanajemen buruk itu, terlampau rumit dan berbiaya besar,” ungkapnya terang-terangan.
Bahkan Ia mengatakan, paten teknologi yang dimiliki BlackBerry sudah semakin uzur. Berbagai manfaat paten teknologi BlackBerry dengan cepat memudar dimakan zaman. Selain itu, lanjut Baratte, basis pelanggan korporoasi yang menggunakan BlackBerry makin menyusut karena tergantikan dengan perangkat Android dan iPhone. “Sangat sulit untuk menilai bisnis yang dimiliki BlackBerry saat ini,” ungkapnya.
Sementara itu, sejumlah media asal Kanada memperkirakan, skenario paling mungkin bagi BlackBerry ialah menjadi perusahaan tertutup atau go-private. Koran Kanada, Globe And Mail pada Senin kemarin mengabarkan, perusahaan investasi Fairfax Financial Holdings, pemegang saham 10 persen di Blackberry, sedang melakukan pembicaraan dengan ekuitas swasta dan para pemain industri IT untuk membeli semua saham BlackBerry.
Masalahnya adalah, apakah BlackBerry memang layak dibeli?
Sumber: Blog WSJ



















