Samsung Mungkin Pangkas Harga Ponselnya
Samsung tidak bisa terus-menerus menikmati pertumbuhan di bisnis smartphone-nya. Samsung mengumumkan, keuntungan operasionalnya selama kuartal kedua (April – Juni) tahun ini telah anjlok hingga 25 persen dari kuartal yang sama di tahun lalu menjadi 7,2 triliun won (Rp 82 triliun). Analis menyarankan Samsung agar mengkaji ulang strategi bisnis smartphone-nya yang terlalu fokus di perangkat high end dan selalu menjual perangkat low-mid end di harga yang tidak mampu bersaing.

Sejumlah analis mengatakan, Samsung kemungkinan tidak akan punya pilihan selain memangkas harga perangkat mobile-nya di tingkat low dan mid-end. Langkah itu mesti dilakukannya bila Samsung masih ingin menikmati pertumbuhan di masa yang akan datang. Pihaknya juga mesti mengantisipasi persaingan berat dari vendor global asal China, seperti Huawei dan Lenovo.
“Pendapatan Samsung ini menyampaikan realitas yang sulit bagi Samsung bahwa itu bukan Apple, namun Samsung. Strateginya menjual ponsel dengan harga yang mahal tidak akan bekerja lagi karena saingan dari China juga menawarkan ponsel cukup baik dengan harga jauh lebih murah,” ujar Lee Seung-woo, analis teknologi di IBK Securities, seperti dikutip dari Reuters.
Hasil laba usaha pada kuartal kedua ini merupakan level terendah Samsung untuk pertama kalinya sejak dua tahun silam. Kala itu, keuntungan yang didapat Samsung pada kuartal pertama 2012 hanya sebesar 5,7 triliun won. Sementara untuk rekor laba usaha kuartalan tertinggi, Samsung pernah meraih angka 10,2 triliun won pada kuartal ketiga 2013 lalu.

“Samsung merupakan vendor yang paling kompetitif dalam produk mid-to-high end, namun permintaan pasar sedang didorong oleh perangkat lower-tier di mana masalah terbesarnya adalah harga (yang jauh lebih murah),” ungkap Greg Roh, analis dari HMC Investment. Ia juga meminta Samsung agar memperkuat bisnis lineup perangkat low-mid end.















