Terlibat Skandal Laporan Keuangan, CEO Toshiba Mundur

CEO dan presiden Toshiba, Hisao Tanaka, dan eksekutif tinggi lainnya termasuk mantan CEO Atsutoshi Nishida dan Norio Sasaki, mengundurkan diri dari perusahaan. Pengunduran ini karena adanya skandal keuangan Toshiba senilai US$ 1,2 Miliar di mana perusahaan ini membesar-besarkan keuntungan dalam beberapa tahun demi menghindari kebangkrutan. Saat ini Masashi Muromachi mengambil alih sementara kursi presiden perusahaan ini.
Terungkapnya laporan ini berkat penyelidikan oleh kejaksaan Jepang yang kejanggalan pada laporan keuangan Toshiba yang melebih-lebihkan keuntungan sebesar 151,8 Miliar Yen (US$ 1,2 Miliar) antara tahun 2008 hingga 2014. Tanaka dan Sasaki menyadari laporan laba palsu ini, dan merancang agar laporan ini sulit diketahui oleh auditor.
Menurut Reuters, kemungkinan Toshiba akan dijatuhi denda senilain 300-400 miliar Yen karena kasus ini. Jumlah denda ini belum final, dan Toshiba masih menunggu temuan lain pihak ketiga sebelum membuat keputusan tentang masalah tersebut. Namun, perkembangan menurut perkembangan terakhir, krisis Toshiba ini telah mengakibatkan delapan dari enam belas anggota dewan direksi meninggalkan jabatan mereka.

Laporan CNN menunjukkan bahwa pengunduran diri itu efektif sejak 21 Juli. “Kami menanggapi dengan serius apa yang telah terjadi dan kami ingin meminta maaf dari hati kepada semuanya, dimulai dengan pemegang saham, dan pada semua pemangku kepentingan,” kata Tanaka dalam sebuah konferensi pers, mengumumkan pengunduran dirinya.
Kasus laporan fiktif memang tak asing terjadi pada raksasa elektronik Jepang. Pada tahun 2011, Olympus menghadapi masalah yang sama, menghasilkan denda 700 juta Yen bagi produsen kamera Jepang ini karena laporan keuangan palsu. Mantan presiden Olympus bertanggung jawab dalam kasus pemalsuan ini, namun ia tidak menerima ganjaran penjara.
Enam minggu sebelum temuan Toshiba, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe mengumumkan perubahan tata kelola perusahaan yang ditujukan untuk menyelamatkan ekonomi Jepang. Kasus Toshiba menjadi pukulan lain dalam upaya perubahan ini, sehingga investor dan analis asing meminta untuk langkah-langkah tata kelola perusahaan yang lebih baik pada Jepang.
Sumber: CNNMoney
















