Review Paper Towns: Petualangan Remaja Tentang Cinta dan Jati Diri

Sejak umur sembilan tahun hingga remaja, Quentin telah jatuh cinta dengan anak gadis tetangga bernama Margo Roth Spiegelman. Wanita yang punya kesan misterius ini memang selalu menarik perhatian anak lelaki sehingga membuatnya begitu populer di sekolah.
Margo bukanlah anak yang populer karena prestasi yang dimilikinya. Bahkan dia terbilang anak gadis yang bengal. Sering kali ia melarikan diri dari rumahnya dan melakukan vandalisme di lingkungan sekitar. Tapi ini tak membuat Quentin memiliki pandangan buruk padanya.
Margo memiliki kekasih bernama Jase, yang diketahui telah berselingkuh darinya dengan sahabat baik Margo bernama Becca. Margo sakit hari, lalu pada sebuah malam ia menyelinap ke kamar Quentin dan meminta bantuan padanya. Margo ingin membalas dendam pada Jase yang telah menyakiti hatinya.

Setelah rencana balas dendam berlangsung sukses Margo mengajak Quentin ke atap sebuah gedung bernama Suntrust Center. Keduanya menikmati panorama kota Orlando yang menjadi pemukiman mereka. Margo menyampaikan hal yang sulit dimengerti oleh Quentin. Margo menyebut bahwa apa yang mereka lihat hanyalah sebuah ‘Paper Town’ dan semua orang-orang di dalamnya adalah oarang-orang kertas. Maksud Margo yaitu tentang banyaknya kepalsuan yang dilakukan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Setelah sebuah malam yang mengejutkan, tiba-tiba keesokan harinya Margo menghilang. Sudah lebih dari tiga hari Margo tak pernah masuk sekolah, dan Quentin pun mencari-carinya. Hingga kepolisian pun menanyakan hal kepada Quentin karena ia menjadi orang terakhir yang ditemui Margo sebelum menghilang. Orang tua Margo tak mencari kemana Margo menghilang, karena mereka yakin bahwa Margo kali ini pasti melarikan diri lagi. Ini bukan kali pertama Margo menghilang.
Quentin merasa kehilangan atas kepergian Margo. Namun ia menemukan sebuah petunjuk dari jendela kamar Margo, dan yakin bahwa ini adalah pesan dari Margo tentang kepergiannya. Quentin pun menelusuri clue-clue yang di tinggalkan Margo, dan bersama rekan-rekannya ia pun akhirnya berpertualang mencari keberadaan Margo.
Petualangan Akhir Remaja Dikemas Dengan Teka Teki

Ide cerita dari Paper Town memang menawarkan sesuatu yang lebih fresh jika dibandingkan film novel dari Green sebelumnya. Berbeda dengan ‘The Fault in Our Stars’ yang seolah mengajak penonton bersedih, petualangan Q mencari Margo hingga menuju Paper Town membuat penonton merasa ikut dalam perjalanan seru yang menyenangkan. Penggarapan film yang tak banyak terekspos ini juga sepertinya lebih berhasil membawa emosi penonton saat menyaksikan film dan tak larut dalam kebosanan.

Paper Town tak hanya menyuguhkan drama percintaan remaja, tapi juga tentang persahabatan. Seolah membuat kita menyadari bahwa ego di masa remaja memang telah bertindak banyak dalam kita membuat keputusan. Quentin, Marcus dan Ben adalah sebuah gambaran remaja yang selalu ingin mencoba hal-hal yang baru disekitar mereka. Tak sedikit hal-hal yang lucu dan menarik jadi cerita dalam kisah pertemanan mereka.
Yang cukup seru adalah saat Quentin dan rekan-rekannya mencoba memecahkan clue yang ditinggalkan Margo yang tiba-tiba menghilang. Tak begitu rumit tapi cukup membuat kita ikut menduga-duga apa isi pesan yang ditinggalkan oleh Margo. Dan grup persahabatan kecil ini pun berubah menjadi sebuah grup detektif demi mencari keberadaan Margo.
Para aktor yang dipilih sepertinya sudah sangat sesuai untuk memerankan setiap karakter dalam film ini. Remaja-remaja polos diperankan oleh para aktor yang usianya sesuai, Nat Wolffs, Austin Abrams dan Justice Smith tak perlu susah-susah menjiwai semua karakter yang mereka mainkan. Semuanya terasa begitu natural. Sedangkan Margo yang diperankan oleh Cara Delevigne, walau menjadi karakter yang dominan dalam cerita, sebenarnya tidak tampil banyak dalam adegan. Hanya di bagian awal dan akhir cerita.

Di sisi lain Paper Towns juga memperlihatkan bagaiamana perkembangan remaja di era modern saat ini. Makna Paper Towns yang berarti kota palsu yang sengaja diletakan oleh pembuat peta untuk menandakan hak cipta, disederhanakan oleh Margo menjadi sebuah kota yang dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kepura-puraan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ini menggambarkan hal lain bagi penonton, bahwa gadis seperti Margo hanyalah korban dari kurangnya perhatian orang tua dan orang-orang di sekitarnya.
Hingga di bagian akhir film, melalui sudut pandang Quentin kita akan disuguhkan dilema tentang kesimpulan dari perjalanan yang ditempuhnya demi mencari Margo. Berakhir dengan narasi dari pemikiran Quentin yang seolah ikut bergumam dalam pemikiran penonton. Ini lebih dari sekedar pencarian cinta, melainkan pencarian jati diri para remaja yang beranjak dewasa.
Video:
Tanggal Rilis: 22 Agustus 2015 (Indonesia-Midnight)
Durasi: 109 Menit
Sutradara: Jake Schreir
Genre: Drama, Romance, Mystery
Pemain: Nat Wolff, Cara Delevingne, Halston Sage, Austin Abrams, Justice Smith & Jaz Sinclair
Studio: 20 Century Fox












