Direct Release: Mengatasi Tantangan pada Implementasi Smart City
Kini, kita telah memasuki era di mana kita lebih terhubung dari sebelumnya, dan konektivitas tidak terbatas antara perorangan atau sistem, akan tetapi juga meliputi seisi kota, bahkan negara. Termasuk di Indonesia, kita telah melihat banyak kota yang sudah mengambil inisiatif menuju Smart City, sebuah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan kota maju, yang menggunakan teknologi digital atau Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) untuk meningkatkan kualitas dan kinerja layanan perkotaan, untuk mengurangi biaya dan konsumsi sumber daya, dan untuk terlibat lebih aktif dan efektif dengan penduduknya.[i] Namun sebelum mendalami potensi dari Smart Ciy, penting untuk mempertimbangkan pondasi dimana Smart City telah dibangun, yang merupakan konektivitas. Internet of Things (IoT) sebagai salah satu buah dari konektivitas, telah banyak dibahas sebagai salah satu dasar yang memungkinkan terciptanya Smart City. IoT adalah sebuah jaringan dari berbagai obyek yang dilengkapi dengan elektronik, perangkat lunak, sensor, dan konektivitas internet, yang memungkinkan obyek tersebut mengumpulkan dan bertukar data. [ii]
Selangkah maju dari Internet of Things, di Cisco, kami mendefinisikan Internet of Everything (IoE), sebagai jaringan koneksi antara manusia, proses, dan obyek. Sebagai perbandingan, IoT mengacu pada jaringan koneksi dari obyek fisik, namun tidak termasuk manusia dan proses.[iii] Interkonektivitas dari IoE ini akan memungkinkan otomatisasi dalam memperluas area Smart City, yang meliputi layanan pemerintah, transportasi dan pengelolaan lalu lintas, kesehatan, air dan limbah.
Dengan berkembangnya berbagai teknologi baru seperti layanan berbasis cloud, IoT, dan meningkatnya penggunaan smartphone, konektivitas yang luas ini membawa potensi dan nilai ekonomi yang besar. Pada penelitian bertajuk IoE Value at Stake dari Cisco, diprediksikan bahwa dengan mewujudkan konektivitas baru antara masyarakat, proses, data, dan perangkat, lembaga pemerintah dapat menghemat biaya, meningkatkan produktivitas karyawan, menghasilkan pendapatan baru tanpa menaikkan pajak, selagi mendatangkan keuntungan bagi masyarakat. Cisco memperkirakan sektor publik global akan memiliki potensi senilai 4,6 triliun USD, dan jika digabungkan dengan perkiraan Cisco terhadap sektor swasta senilai 14,4 triliun USD, maka akan mencapai nilai sebesar 19 triliun USD di sepanjang tahun 2013 – 2022.
Dengan Indonesia yang tengah memasuki era digitalisasi, potensi dan nilai ekonomi dari konektivitas dan IoE mulai terlihat. Berdasarkan hasil riset 2014dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia tumbuh sebanyak 16.9 juta orang terhitung sejak tahun 2013. Secara keseluruhan, jumlahnya mencapai 88.1 juta pengguna dari 71.2 pengguna sejak tahun 2013. Pencapaian ini merupakan indikasi dari besarnya potensi konektivitas untuk Indonesia, dan bagaimana konektivitas dapat berfungsi sebagai pondasi pengembangan kota dan negara yang lebih cerdas.
Tantangan Keamanan pada Smart City
Keamanan masih merupakan persoalan di jaringan sistem manapun. Terlebih jika sistem tersebut mencakup seluruh kota, ancaman keamanan perlu ditangani dengan serius. Semakin banyaknya sistem yang terhubung akan menyebabkan semakin kompleks pula penanganannya. Beberapa bagian dari infrastruktur Smart City biasanya ditangani oleh lembaga yang berbeda-beda, tanpa adanya pengelolaan pusat yang mampu menetapkan standar pengelolaan cybersecurity di seluruh organisasi tersebut.
Masalah lainnya adalah banyaknya perangkat yang terhubung ke jaringan atau sistem Smart City, dari pompa air hingga lampu lalu lintas, yang pada mulanya tidak dirancang untuk terhubung pada internet, sehingga tidak dibangun dengan pendekatan cybersecurity. Ahli tata kota perlu mengutamakan kekhawatiran terhadap akses pada sistem-sistem penting. Memanfaatkan isolasi jaringan yang baik dapat memastikan bahwa pelanggaran di sebuah sistem tidak mengakibatkan pelanggaran di sistem lainnya. Para ahli infrastruktur Smart City perlu menyadari bahwa tidak ada sistem yang sepenuhnya 100 persen aman. Pemantauan sistem untuk menemukan dan menghentikan gangguan sama pentingnya dengan mengamankan sistem.
Begitu pula dengan pentingnya keamanan data pribadi seorang penduduk jika terjadi cyberattack pada sebuah Smart City. Data pribadi ini dapat meliputi informasi penting yang biasanya digunakan pada pendaftaran administrasi dalam bentuk apapun, dari akun media sosial, rekening bank, hingga informasi kartu kredit. Pentingnya keamanan dasar pada Smart City tidak hanya melindungi infrastruktur Smart City itu sendiri, tapi juga harus turut melindungi data pribadi penduduk.[iv] Meskipun demikian, penduduk perlu mengetahui prinsip dasar bagaimana melindungi data pribadi mereka terlebih dahulu.
Seiring dengan meningkatnya perhatian akan cyberattack di Indonesia, pemerintah Indonesia telah mencoba untuk memberikan beberapa langkah bagi pengguna internet untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan TIK melalui pengumuman “Ancaman Cyberattack dan Urgensi Keamanan Informasi Nasional”. Pemerintah berbagi tips dan tindakan pencegahan mendasar kepada pengguna internet di Indonesia dalam menghindari ancamancybersecurity. Tips yang dibagikan meliputi enkripsi akses WiFi, memperbarui sistem operasi dan program antivirus/firewall secara berkala, mengetahui sumber aplikasi sebelum mengunduh, dan berhati-hati terhadap tautan atau konten email yang mencurigakan dan yang tidak diketahui.
Mengatasi Celah Keamanan pada Smart City
Salah satu cara mendasar untuk mengatasi celah keamanan pada Smart City adalah dengan menggunakan teknologi firewall, sebuah sistem keamanan jaringan yang dapat memantau dan mengendalikan lalu lintas jaringan keluar dan masuk berdasarkan kebijakan keamanan yang telah ditetapkan. Biasanya teknologi firewall memberikan penghalang antara jaringan dalam yang aman dan terpercaya dengan jaringan luar yang diasumsikan tidak aman dan tidak terpercaya, seperti internet.[v] Namun pada kasus tertentu, beberapa sistem sangat penting sehingga lebih baik untuk sama sekali tidak terhubung pada koneksi internet luar.
Kebijakan mengenai pengendalian akses data juga merupakan langkah yang penting untuk diterapkan. Selain menjaga sistem terhadap rangkaiancyberattack, aspek manusia dari sebuah sistem juga penting. Dengan membangun kebijakan mengenai siapa yang dapat mengakses data, hal ini dapat memberikan pembatasan akses yang ketat pada data dan menghindariakses yang tidak diinginkan pada data-data penting.
“Kini kita terhubung antara satu sama lain, lebih dari sebelumnya dan dengan semakin banyaknya obyek yang terhubung dengan internet, data dan analitik dari data tersebut dapat membawa layanan yang lebih baik untuk para penduduk, bisnis, manusia, saya dan anda. Satu hal yang penting pada transformasi digital ini adalah keamanan berada di tempat yang tepat untuk memastikan keamanan data, perangkat kita selamat, dan firewall yang aman. Esok hari yang aman untuk Indonesia dimulai dari sekarang,” tutup Sancoyo Setiabudi, selaku Country Manager untuk Cisco Indonesia.
[i] The Internet of Everything for Cities
[ii] The Internet of Things Global Standards Initiatives
[iii] The Internet of Everything
[iv] What is Encryption?
[v] A History and Survey of Network Firewalls














