Melihat Kasus Fix Figure Sumanto dari Sisi Lain
Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) geram dengan beredarnya figur Sumanto, Ryan Jagal, dan Robot Gedek. Mungkin ini salah satu berita tentang dunia mainan Indonesia yang sedang hangat belakangan ini. Menurut berita yang kita kutip dari detik news, ketua KPAI mengatakan “Jika ini dibiarkan, di samping akan berdampak buruk bagi anak, juga berdampak pada citra buruk Indonesia di mata internasional,”. Intinya dari beberapa berita yang kami himpun, KPAI banyak mengatakan akan membahayakan untuk anak, karena karakter yang mereka buat adalah simbol kejahatan yang mereka lakukan. Bahkan pada berita terakhir yang kami dapat, Sumanto juga tidak rela dirinya dijadikan figur.
Figur Indo Psychos buatan Good Guys Never Win yang berisikan Sumanto, Ryan Jagal, dan Robot Gedek ini sebenarnya sudah lama beredar. Di mata kolektor mainan karakter-karakter ini unik dan memang dikemas seperti action figure vintage, dimana hanya menggunakan blister karton dan plastik.

Lucunya bila kita lihat pada kemasan Indo Psychos ini sudah tertulis, bahwa figur ini hanya untuk 17 tahun keatas dan bukan konsumsi anak-anak di bawah umur tersebut.

Pada kemasan juga tertera kalau ini bukan mainan tapi figur koleksi. Bahkan tertulis dalam 3 bahasa berbeda untuk memperjelas pembeli.

Dengan keterangan yang ada, memang jadi agak aneh bila KPAI mempermasalahkan hal ini, seakan-akan mereka tidak membaca terlebih dahulu, mengingat kemasan figur sudah memberikan peringatan yang jelas, apalagi figur-figur ini hanya dibuat dalam kuantitas yang terbatas (sekitar 300 buah). Bisa dibilang ini adalah Designer Toy yang mempunyai nilai seni yang cukup tinggi. Jumlah ini juga sangat sedikit dibanding penduduk Jakarta yang berjumlah lebih dari 12 juta jiwa. Bahkan jumlah anak-anak yang merokok jauh lebih tinggi ketimbang jumlah figur Indo Psychos ini, apakah tidak lebih baik mengurusi lebih lanjut bahaya yang sudah jelas ada?

Esensi mengkoleksi figur adalah “mengingat” dan “menghargai karya seni”. Dimana sebuah figur bisa merepresentasikan sebuah karakter untuk diingat dari berbagai segi, juga bisa menjadi karya seni yang bisa dinikmati, dan mempunyai nilai jual. Menurut kami esensi “mengingat” karakter Indo Psycho ini adalah, supaya kita waspada bahwa di Indonesia pernah terjadi hal seperti ini. Jadi jangan pernah meremehkan kejahatan yang terjadi di sekitar kita. Esensi “menghargai karya seni” disini kami lihat dari kemasannya, karena figur-figur ini memang dijual tidak untuk dibuka, melainkan untuk dipajang bersama kemasannya, ini bahkan tertera juga pada kemasannya. Apabila KPAI mengatakan kalau mereka akan mencari figur-figur ini di mall-mall besar, maka ya silahkan pulang dengan tangan kosong, karena memang figur ini hanya dijual untuk kolektor.

Saat ini semua akun media sosial Good Guys Never Win juga sudah seperti lenyap ditelan bumi. Sampai saat ini pun, belum ada konfirmasi lagi dari pemiliknya. Selain figur Indo Psychos, mereka juga sudah membuat figur lain seperti Ahok dan figur perokok yang sangat laku, bahkan di Battle of the Toys 2015 dan Jakarta Toys Fair 2016 kemarin dua figur ini habis terjual ketimbang figur yang lain. Dengan adanya kasus ini, figur-figur Good Guys Never Win diprediksi akan tambah naik dan semakin langka.

Bercermin dari kasus penyetopan distribusi figur Angewomon yang terjadi di Amerika, sepertinya masyarakat Indonesia masih kurang dewasa dalam menerima figur untuk dewasa. Ini karena masih ada anggapan sebuah figur adalah konsumsi anak-anak dibawah umur. Tidak heran KPAI panik dan berusaha menghentikan peredaran figur Indo Psychos ini. Tapi menurut kami KPAI juga terlalu cepat mengambil kesimpulan, tanpa menelaah lebih jauh esensi dari figur-figur ini. Ya pikir saja, apabila anda sebagai orang tua membelikan figur Indo Psychos ini untuk anak anda…maka kami hanya akan cuma bilang “Apakah anda sudah teliti sebelum membeli? Orang tua macam apakah anda membelikan figur ini untuk anak anda?”
















