Jual Beli Senjata Teroris Makin Marak di Facebook
Facebook adalah media sosial yang saat ini sudah digunakan oleh jutaan pengguna diseluruh dunia. Para penggunanya menggunakan sosial media ini sebagai alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Tapi, sering berjalannya waktu, penggunaan Facebook yang ramah akan kemudahan dan akses cepat, sekarang ini mulai dijadikan alat oleh pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan di daerah konflik dengan cara berjualan senjata.

Aksi penjualan senjata di Facebook kini tengah marak di Timur Tengah. Disinyalir, ini ternyata dibuat oleh beberapa grup yang masih terkait dengan jaringan teroris. Posting gambar di Facebook page jelas memperlihatkan aksi jualan dari beberapa user, menawarkan berbagai senjata, mulai dari senjata genggam berukuran ringkas, senapan otomatis, baju seragam militer, hingga misil peluru kendali.
Tentunya, hal ini sangat mengejutkan banyak pihak karena kebijakan dari Facebook sendiri melarang penjualan senjata dalam media sosial mereka. Namun, aturan yang mulai diberlakukan Facebook Januari lalu tampaknya tak berpengaruh untuk kelompok ini, terutama untuk daerah yang sarat konflik seperti Syria, Iraq serta Libya. Banyak pengguna menawarkan berbagai senjata yang lazim dipakai teroris untuk mengacau, mereka memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan pribadi atau memang dibuat untuk menggalang dana untuk kegiatan teror.
Anehnya, seperti terlihat dalam gambar, senjata bantuan dari pasukan sekutu yang diperuntukkan untuk membantu pasukan Iraq pada waktu transisi pemerintahan beberapa tahun lalu ternyata secara ilegal ikut dipajang untuk dijual. Banyak dari senjata tersebut masih terlihat mempunyai identitas atau label resmi dari negara pembuatnya.

Dengan kejadian ini, tentunya sosial media seperti Facebook mendapat banyak kecaman. Ya memang mungkin senjata didaerah konflik tak dipungkiri akan mudah didapatkan, tapi sebagai media sosial besar dengan pengguna jutaan diseluruh dunia, Facebook dituding secara tidak langsung ikut membantu penjualan dengan akses mudah. Terlebih lagi media sosial besutan Mark zuckerberg ini sudah menerapkan pembayaran mudah lewat aplikasi Messenger mereka. Fitur ini akan banyak memudahkan pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan dengan senjata dan terror.

Kabar baiknya, pihak Facebook tak tinggal diam. Mendengar kritikan dan masukan, mereka menutup beberapa grup Facebook yang terbukti menjual senjata. Sekitar 6 page atau grup diakhirnya diblock dan ditutup oleh Facebook.
Penjualan senjata api secara online menurut beberapa pihak mulai mengkwatirkan. Nicolas Florqin yang meneliti tentang penyelundupan senjata di dunia berkata, “sudah seharusnya kita semua serius mengenai bahaya penjualan senjata api, kita wajib untuk mengontrol dan memonitor fenemona ini”.













