Microsoft Bayar USD 650 Atas Tuntutan Terkait Upgrade Paksa ke Windows 10
Beberapa bulan sebelum berakhirnya masa upgrade gratis dari Windows 7/Windows 8.1 ke Windows 10, Microsoft sempat menjalankan kebijakan “upgrade paksa“. Salah satu yang cukup membingungkan, dan menjebak, pengguna adalah tawaran upgrade yang tidak bisa ditolak hanya dengan menutup window tawaran tersebut. Beberapa waktu lalu, Microsoft harus membayar USD 650 ke keluarga seorang pengguna Windows 7 karena “upgrade paksa” itu.

“Rusak” PC Penderita Alzheimer
Kejadian di mana Microsoft harus membayar USD 650 itu bersumber dari “upgrade paksa” ke Windows 10 di PC Windows 7 milik seorang penderita Alzheimer. Karena upgrade tersebut, sang penderita Alzheimer tersebut tidak bisa lagi menggunakan PC-nya karena tidak bisa mengenal fungsi-fungsi dari sistem operasi tersebut. Keluarga sang penderita pun harus bekerja keras mengembalikan PC ke kondisinya semula agar sang penderita Alzheimer bisa menggunakannya lagi. Berdasarkan penjelasan pihak keluarga, PC tersebut harus berada di kondisi yang dikenal sang penderita, yaitu dengan Windows 7 yang dikonfigurasi dengan tampilan menyerupai Windows XP, agar tetap bisa digunakan oleh sang penderita.
Melihat masalah yang ditimbulkan oleh “upgrade paksa” yang dianggap tidak jelas cara menolaknya tersebut, pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk mengajukan tuntutan ke Microsoft. Microsoft pun setuju untuk membayar denda atas ketidaknyamanan dari proses tersebut, sebesar USD 650, dalam bentuk credit Microsoft Store dan VISA Gift. Hanya saja, pihak keluarga penderita Alzheimer tidak menghendaki pembayaran dalam bentuk tersebut dan ingin Microsoft mendonasikan USD 650 tersebut ke yayasan penderita Alzheimer.
Berdasarkan kabar yang beredar, pada akhirnya Microsoft tidak bisa mendonasikan langsung USD 650 tersebut, dan memilih memberikan cek USD 650 ke keluarga penderita Alzheimer yang PC-nya sempat “rusak” karena Windows 10 itu. Keluarga disebut mendonasikan USD 650 itu ke yayasan yang dimaksud. Microsoft sendiri pada akhirnya menyebutkan bahwa mereka menyesal telah menyebabkan masalah itu.















