NVIDIA: Gaming dan AI yang Makin Menarik
Perusahaan teknologi ternama dunia, yang banyak dikenal melalui produk “GeForce” mereka, NVIDIA, turut meramaikan acara Computex 2017. Seperti biasa, mereka menggelar sebuah press conference untuk memperkenalkan produk dan teknologi terbaru mereka ke publik. Hari ini, acara tersebut digelar dan dibawakan langsung oleh Jensen Huang, CEO dan founder dari NVIDIA.

Tampilkan Project Holodeck
Hal pertama yang ditampilkan di acara ini adalah Project Holodeck. Holodeck pada dasarnya adalah dunia dalam virtual reality yang dimotori NVIDIA yang bisa dimanfaatkan untuk bisa menangani berbagai hal, dengan memberikan suatu gambaran photorealistic untuk objek di dalamnya. Hal ini akan menghadirkan suatu sistem yang menarik, yang bisa dimanfaatkan secara luas, nantinya, untuk banyak hal.

Gaming: Makin Menarik
NVIDIA tidak melupakan topik gaming di acara mereka di Computex 2017 ini. Ada hal yang menarik yang diumumkan oleh NVIDIA terkait gaming di laptop di acara kali ini. Bukan sebuah GPU baru, tetapi Max-Q. Max-Q merupakan desain yang memungkinkan laptop dengan GPU dari NVIDIA, bahkan di kelas tertinggi pun, hadir dengan desain yang tipis dan bobot ringan.


Max-Q ini akan memungkinkan hadirnya laptop dengan ketebalan hanya 18 mm yang mengusung GTX 1080. Sebelumnya, GPU premium hanya bisa dihadirkan di laptop dengan ketebalan di atas 50 mm saja. Jensen menjelaskan bahwa Max-Q ini mengusung dasar memaksimalkan GPU di efisiensi tinggi yang tetap menawarkan performa tinggi di kondisi yang ada. Ada bagian dari Max-Q ini yang dihadirkan dari sisi software, termasuk melalui GeForce Experience, sementara dari sisi hardware pun ada hal yang dilakukan untuk mendukung efisiensi tinggi yang ditawarkan.
Era AI Modern
Selanjutnya, sesuai yang diinformasikan sebelumnya ke perwakilan media, topik utama dari acara NVIDIA ini adalah AI. AI memang menjadi salah satu fokus NVIDIA untuk GPU mereka, terlebih karena kebutuhan yang ada di bidang itu makin sulit untuk bisa dipenuhi oleh CPU. Oleh karena itu, penggunaan GPU menjadi jawaban untuk bisa mendorong pemenuhan kebutuhan akan performa untuk AI, dalam hal ini GPU Computing.
Jensen menjelaskan bahwa saat ini sudah banyak hal yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan AI di bidang deep learning seperti mobil otonom, chatbot, serta AI dalam bentuk lain. Kebutuhan akan AI era modern ini mendorong lahirnya suatu kebutuhan akan performa pemrosesan yang lebih tinggi lagi. Oleh karena itu, NVIDIA, mengembangkan perangkat pendukung AI mereka ke arah yang lebih luas, bukan hanya dari sisi kemanpuan, tetapi juga dukungan untuk digunakan di lebih banyak tempat, mulai di data center di cloud, hingga ke yang lebih personal, seperti yang bisa digunakan dalam mobil.
AI dari Ujung ke Ujung
Beberapa waktu lalu, NVIDIA sudah merilis Tesla V100, salah satu card mereka yang juga mendukung kebutuhan AI era modern ini. NVIDIA menyebutkan bahwa Tesla V1000 ini dioptimasi untuk HPC (High Performance Computing) yang lebih baik yang dioptimasi untuk deep learning, salah satunya dengan menawarkan Tensor Core, unit pemroses yang lebih baru, dengan sistem kerja baru, yang menawarkan throughput hingga 12x lipat Pascal.

Tesla V100 dengan berbagai hal baru ini juga ditawarkan NVIDIA dalam sebuah paket HGX (Hyperscale GPU Accelerator) baru, dengan 8x Tesla V100 yang dihubungkan satu sama lain dengan NVLINK baru. Throughput yang bisa dihasilkan bisa menawarkan throughput hingga 1 PFLOPS. Hal ini memungkinkan lahirnya mesin AI untuk cloud dengan performa tinggi, dan akan segera hadir dalam wujud produk yang ditawarkan beberapa partner NVIDIA, seperti Foxconn, Inventec, Wistron, dan Quanta.

Untuk membantu akselerasi deep learning dengan GPU Computing yang mereka tawarkan, NVIDIA memperkenalkan container yang disebut NVDocker. Hal ini memungkinkan akses ke sistem cloud yang dimotori dan ditangani oleh NVIDIA dari PC apapun. Lingkungan terintegrasi ini memungkinkan hadirnya platform AI yang sangat mudah diakses dari mana saja yang akan membantu para pengembang AI di mana saja.
Robot Pintar, Belajar Secara Virtual
Memanfaatkan berbagai hal yang telah mereka buat terkait AI, NVIDIA sudah mencoba menyusun sistem uji coba yang disebut BB8, sebuah mobil otonom. Mobil ini bukan diprogram untuk mengikuti pola tertentu, tetapi belajar bertindak sesuai apa yang dipelajarinya, dan sistem seperti ini akan diadopsi produsen mobil, salah satunya Toyota. Namun, sistem kendali mobil sebenarnya cukup mudah untuk dipelajari oleh mobil otonom. Bagaimana dengan perangkat otomatis lain yang mungkin lebih sulit mempelajari apa yang harus mereka lakukan?

NVIDIA juga mengumumkan Isaac Initiative, sebuah inisiatif yang membantu mendorong pengembangan alat yang memanfaatkan AI untuk bekerja, yang kurang lebih dikenal sebagai robot. Satu hal yang menarik, tidak hanya di dunia nyata, inisiatif ini juga bisa mendorong robot untuk belajar di arena virtual, bisa saja di dalam Holodeck seperti yang telah ditampilkan sebelumnya. Hal seperti ini akan bisa mendorong pengembangan AI yang lebih cepat, dengan melakukan replikasi secara virtual, sehingga AI bisa belajar lebih cepat, dengan basis Jetson TX2, baik secara fisik maupun virtual.














