Review Smart TV LG 65QNED91: Memukau dgn Quantum Dot, Nano Cell, dan Mini LED
Pengalaman Menggunakan LG 65QNED91
Kami mencoba TV LG ini untuk memutar konten dari Netflix dan YouTube.

Secara umum, kami merasakan bahwa tampilan dari TV ini bisa dikatakan prima dan cemerlang. Warna bisa tampil dengan baik, dengan detail yang terbilang baik juga. Hal ini tampaknya merupakan hasil dari penggunaan Quantum Dot dan NanoCell. LG memang mengklaim kalau kedua hal itu membuat tampilan warna yang lebih nyata dan akurat. Penggunaan Mini LED membuat TV ini bisa menawarkan lebih banyak dimming zone untuk backlight-nya. Jadi, saat tampilan gelap muncul di layar, makin banyak area yang bisa dimatikan LED backlight-nya. Ini membuat warna gelap akan tampil lebih dalam.
Secara umum, kombinasi dari Quantum Dot, NanoCell, dan Mini LED memang bisa mengangkat kualitas tampilan dari TV ini.
Di scene kaya warna, maupun di scene dengan warna gelap lebih dominan, semuanya bisa ditampilkan dengan baik di 65QNED91 ini. Memang, ada beberapa hal yang membuat tampilannya masih belum setara dengan OLED, sudah mendekati, tapi belum bisa disebut sekelas. Selain itu, view angle-nya juga belum benar-benar luas. Masih ada sedikit pergeseran warna saat melihat tampilan di layar dari arah samping. Pergeseran warnanya tidak terlalu jauh dan tidak merusak tampilan keseluruhan konten di layar. Permukaan layar dari TV ini terbilang cukup reflektif. Ini memang bisa meningkatkan tampilan warna. Namun, bila ada cahaya dari depan TV, pantulannya bisa mengganggu.
Secara keseluruhan, kami tetap merasa puas menikmati konten dengan menggunakan TV LG 65QNED91 ini.

LG menyediakan cukup banyak preset Picture Mode di TV ini: ada Vivid, Standard, Eco, Cinema, Football, Game Optimized, Filmmaker Mode, dan 2 preset “Expert” dari ISF/Imaging Science Foundation, untuk penggunaan TV ini di ruang terang atau ruang gelap. Preset-preset tersebut bisa dipilih sesuai kebutuhan. Misalnya, Football tentu cocok saat kita menonton siaran sepak bola. Lalu Filmmaker akan cocok saat ingin menikmati film sesuai dengan tampilan yang dikehendaki kreator film. Sementara saat HDR aktif, preset yang ditawarkan berubah ke Vivid, Standard, Cinema Home, Cinema, Game Optimized, dan Filmmaker Mode. Filmmaker Mode ini tidak muncul bila HDR yang digunakan adalah Dolby Vision.
Secara keseluruhan, HDR di TV ini terasa memuaskan. Saturasi warnanya juga terbilang baik. Sesuai dengan yang diharapkan dari TV di kelasnya. Upscaler di TV ini juga terbilang sangat memadai. Tampilan dari konten dengan resolusi rendah bisa ditingkatkan sehingga tidak terlihat pecah-pecah di ukuran sebesar ini.
Beralih ke audio, suara yang dihasilkan sistem audio TV ini bisa dikatakan baik. Kedalaman suara terasa baik karena penggunaan 2 speaker + 2 woofer. Secara kualitas, mungkin pengguna akan merasa tidak terlalu butuh menambah sistem audio tambahan saat menggunakan TV ini, kecuali untuk yang memang menyukai sistem audio berkelas yang menggelegar.
Lalu, bagaimana untuk gaming?


Resolusi 4K dan refresh rate yang mencapai 120 Hz tentu saja akan jadi keunggulan tersendiri. Gamer bisa memainkan game favorit mereka di resolusi dan framerate tinggi, tentu saja selama alat yang digunakan untuk memainkan game mendukungnya. LG juga menawarkan preset tampilan dan mode Game Optimized di TV ini yang membantu menekan hal-hal mengganggu saat TV ini digunakan untuk bermain game. Termasuk menyalakan ALLM. Mode Game Optimized ini terbilang menarik. Melalui overlay yang muncul, kita bisa melihat refresh rate yang aktif serta mengatur black & white equalizer yang bisa berguna di game. VRR juga bisa diaktifkan. Menariknya, saat kami mencoba TV ini di laptop dengan GPU GeForce, TV ini terdeteksi sebagai layar G-Sync Compatible. Refresh rate yang muncul di overlay Game Optimizer juga menunjukkan angka yang berubah-ubah, sesuai framerate yang didapatkan di game.
TV LG ini bisa dikatakan cocok untuk menikmati game, bukan cuma untuk game-game AAA dari PC, laptop, atau console baru, tapi bisa juga untuk game kompetitif sampai tingkat tertentu.

Konsumsi Daya
- Dolby Vision – Vivid
- Rata-rata di kisaran 155 – 200 Watt
- Dolby Vision – Standard
- Rata-rata di kisaran 110 – 170 Watt
- Non HDR – Vivid
- Rata-rata di kisaran 160 – 210 Watt
- Non HDR – Standard
- Rata-rata di kisaran 140 – 190 Watt
- Non HDR – Eco
- Rata-rata di kisaran 100 – 160 Watt
- Non HDR – Filmmaker
- Rata-rata di kisaran 100 – 180 Watt
Konsumsi daya TV ini berbeda untuk setiap mode yang tersedia, dengan kisaran konsumsi daya di 100 – 200 Watt saat pengujian. Sebagai catatan, pengujian dilakukan di scene yang dominan terang. Untuk scene gelap, semua mode yang kami uji tersebut menghasilkan konsumsi daya yang relatif rendah, bisa di sekitar 50 – 80 Watt saja.














