Review Smart TV 4K UHD 85 inci Polytron PLD 85UV5903
Aspek terpenting dari sebuah TV adalah layarnya. Kalau speaker kurang baik, kita bisa menambah speaker tambahan. Kalau TV-nya belum tipe smart, kita bisa tambahkan setup box. Bahkan kalau TV-nya belum bisa menangkap siaran digital, kita bisa pasang perangkat tambahan. Tapi kalau layarnya yang kurang baik, biasanya TV akan jadi berkurang kenyamanan pakainya.

Smart TV dari Polytron ini, mengandalkan layar Mini LED yang keren, membuatnya jadi tergolong yang termurah dengan layar Mini LED berukuran 85”. Dengan harga jual di kisaran 40 juta Rupiah di awal tahun 2022, mungkin akan banyak yang berpikir ulang mengenai Smart TV ini.
Baca Juga: Review Smart TV LG 65QNED91: Memukau dgn Quantum Dot, Nano Cell, dan Mini LED • Jagat Review

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa Polytron PLD 85UV5903 ini mengusung layar besar 85” berteknologi tinggi: Mini LED, HDR10+, VRR, dengan refresh rate sampai 120 Hz. Akan sulit mencari Smart TV dengan layar seperti ini di kisaran 40 juta rupiah.
Nah, Langsung saja kita simak review Smart TV 4K UHD 85 inci Polytron PLD 85UV5903 berikut ini.
Spesifikasi
Panel: 85” dengan Quantum Dot

- Backlight: Mini LED
- Resolusi: 4K Ultra HD
- Brightness: 450 cd/m2
- Sudut pandang: 178 derajat vertikal & horizontal
- Refresh rate: 120 Hz
- Fitur: HDR10+, 4K Upscaling, Backlight adjustment, VRR, Local Dimming (khas untuk Mini LED), Dolby Vision dan Dolby Atmos
- Tuner: Analog dan Digital (DVB-T2), sesuai dengan siaran TV digital Indonesia
Sound

- Speaker: 2 x 15W
- Didukung dengan Dolby Atmos
Software

- OS: VIDAA (Ini OS berbasis Linux yang banyak digunakan Smart TV), dilengkapi dengan application store juga.
Konektivitas:
- WiFi: 802.11n dengan opsi 2.4 Ghz dan 5 Ghz (yang ini akan lebih stabil kalau terpaksa pakai WiFi)
- LAN: Ethernet RJ45, tentunya ini akan jadi opsi paling stabil dalam keseharian
- Bluetooth: v5.0 (Ini untuk konektivitas ke perangkat tambahan: keyboard, headset, dll)
Konsumsi daya
- Konsumsi daya yang dijanjikan, maksimum 420 W dan minimum di bawah 1 W dalam kondisi standby.
Desain
Desain Smart TV ini minimalis dan berkelas. Bingkainya yang berwarna gelap ini tergolong tipis. Penampilannya jadi elegan karena penggunaan metal di bingkainya ini. Sementara itu, kedua kaki penyangganya berdesain segitiga dengan warna metalik terang.
Dimensi Smart TV ini cukup besar, yaitu dengan ukuran 1901 x 428 x 1201 dengan base stand. Bobotnya di kisaran 52,1 Kg.
Baca Juga: Review Monitor Samsung S24A40: Layar IPS dengan Webcam dan Resolusi Full HD • Jagat Review

Dimensinya ini membuat pemasangan memang akan sulit dilakukan oleh 1 orang saja. Akan lebih baik jika kita meminta penjual menginstalasi TV ini di rumah.

Uniknya, di bagian belakang Smart TV ini tersedia 2 handle di bagian atas dan 2 pegangan di bagian bawah yang bisa mempermudah pemasangan. Tapi, jelas ya. Dari jumlah handle-nya saja, ini minimal membutuhkan 2 orang dewasa untuk memasangnya.
Untuk base stand, sebenarnya ada 2 opsi pasangan. Kita bisa memilih memasang di sisi paling luar, seperti yang kami lakukan. Atau bisa juga di sisi yang agak dalam, jika meja yang tersedia tidak terlalu lebar.
Nah, bicara soal meja atau alas tempat didudukkannya TV ini. Karena bobotnya, pastikan meja yang digunakan cukup kokoh ya. 50an Kg itu nyaris seberat 1 orang dewasa pada umumnya kan.

Sayangnya, kami tidak menemukan cara untuk memasang Smart TV ini di dinding, karena tidak tersedianya lubang untuk VESA mounting. Jadi, smart TV ini wajib pakai meja/alas.
Untuk konektor, Smart TV ini tergolong lengkap. Diantaranya yaitu:

- 4 HDMI
- (Dengan HDMI 2 sebagai konektor eARC ke soundbar)
- 2 USB
- 1 A/V input (RCA)
- Optical output (SPDIF)
- Audio Jack 3.5mm
- LAN port RJ45
- RF Input (konektor untuk antena)
Remote
Remote Smart TV ini terbilang sederhana. Sayangnya, remote ini tidak berpenampilan seelegan Smart TV-nya. Adanya bingkai silver membuatnya tampil ramai dan terasa kurang pas dengan penampilan keseluruhannya.

Tapi sebuah remote, yang penting fungsinya. Dari sisi fungsi, kami menyukai remote ini karena semua tombol nyaman digunakan. Tidak ada tombol yang susah ditekan. Tidak ada desain berlebihan yang membuat pengoperasian dikorbankan atas nama penampilan.















