Aturan Kerja “Terlalu Keras”, Ratusan Karyawan Twitter Memilih Mundur

Beberapa waktu yang lalu, Elon Musk akhirnya resmi membeli Twitter dengan nilai akuisisi sangat tinggi di Rp 683 trilyun. Setelah rampung, Elon pun mulai menghadirkan beragam peraturan dan perintah baru untuk pengembangan Twitter serta karyawannya.
Namun para karyawan Twitter ini banyak yang memilih mundur sebagai tindakan menanggapi “ultimatum” dari Elon Musk. Alasannya sederhana, mereka merasa bahwa aturan kerja baru dan ultimatum yang diberikan ini terlalu “keras”.
Dalam aturan baru tersebut, yang disebut sebagai Twitter 2.0, Musk menyebutkan bahwa para karyawan yang memilih untuk tetap tinggal akan diminta untuk berkomitmen bekerja berjam-jam dengan intensitas tinggi dan harus kembali lagi bekerja di kantor. Pasalnya, sebagian besar dari pekerjaan karyawan Twitter ini telah bekerja dari jarak jauh, dan tidak ada kejelasan perihal aturan harus bekerja kembali ke kantor yang dimaksudkan.
Tidak dijelaskan secara spesifik berapa banyak karyawan yang akhirnya memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya di Twitter, selain bahwa setidaknya ada ratusan karyawan yang memutuskan pekerjaannya karena peraturan dari Elon Musk yang dinilai tidak masuk akal.
Akibatnya, Twitter mengumumkan bahwa pohaknya akan menutup gedung perkantoran mereka dan menonaktifkan akses lencana karyawan hingga Senin mendatang. Hal ini juga membuat geger para pengguna platform media sosial tersebut, dengan Trending Topic #RIPTwitter masih bergaung hingga artikel ini dipublikasikan.
Sebelum kejadian ini, Musk sendiri sempat memecat para eksekutif dan CEO, serta setidaknya sebanyak 50% dari total pekerja Twitter ketika proses akuisisi selesai.
Apakah riwayat Twitter akan sungguhan tamat karena hal ini? Tidak ada yang bisa dipastikan untuk saat ini. Setidaknya, platform ini masih bisa dipakai oleh para penggunanya hingga saat ini dan tidak ditemukan adanya kasus error dan sejenisnya. Tapi tidak ada salahnya juga untuk jaga-jaga beralih ke platform media sosial populer lainnya, seandainya Twitter sungguhan “mati”.
(sumber)














