Review Canon PowerShot V1: Kamera Pocket Perkasa dengan Fitur untuk Kreator Serius

Ini adalah kamera pocket yang aneh. Benar-benar beda, tapi sangat menyenangkan!
Sensornya tidak dipaksakan pakai Full frame atau APS-C, tapi ini sensor yang besar, 1.4”. Nyaris seukuran sensor Micro Four third, tapi rasio sensor ini 3:2. Yang jelas, ini lebih besar dari sensor kamera smartphone modern yang terbesar sekalipun. Lensa zoom-nya, super lebar. Karena ekuivalen dengan 16mm hingga 50mm. Ini membuatnya memiliki lensa Ultrawide. Tentunya ini membuat pengguna smartphone kelas atas yang sudah terbiasa mengandalkan Ultrawide, tidak akan merasa kehilangan kemampuan sudut lebar itu.

Perekaman video up to 4K60 dan untuk menjamin kestabilannya, bahkan sudah ada built-in kipas pendingin! Perekaman videonya sudah bisa 10-bit dengan Clog3. Jadi sudah siap untuk kebutuhan profesional. Port mikrofon dan bahkan headphone pun ada. Nah lho! Pro banget ga tuh. Semua ini hadir dengan kemampuan pengendalian kepas Pro tentunya.
Pertanyaannya: apakah ini kamera terbaik untuk para konten kreator yang ingin naik kelas dari pakai hape flagship? Atau ini kamera yang cocoknya untuk para traveler yang maunya dokumentasi dengan kualitas tinggi tanpa bawa banyak alat? Atau ini sebenarnya hanya kamera yang berusaha menangkap tren di mana GenZ ramai-ramai mencari kamera pocket?

Mari kita bahas dalam review-nya kali ini, dari perspektif kami sebagai pengguna kamera untuk merekam video beragam format video yang nantinya di-post ke Youtube atau social media.
Canon PowerShot V1
Ini mungkin bisa menjadi kamera yang sulit untuk ditemukan di awal masa penjualannya. Karena, kalau kami pantau, banyak sekali orang yang mencari Powershot V1, di seluruh dunia.

Kenapa? Tentunya karena kamera ini memang memiliki potensi yang sangat menarik. Terutama karena kamera ini dirancang lebih ke arah kemampuan perekaman video dan saat ini banyak kreator dan bahkan pengguna umum yang membutuhkan kemampuan perekaman video yang baik. Selain itu, saat ini di dunia GenZ, kamera poket sedang menjadi tren. Memotret dengan kamera poket menjadi sangat “in” saat ini. Sepertinya kombinasi keduanya, membuat Powershot V1 hadir dengan kemampuan dan form factor yang sangat pas di awal tahun 2025 ini.

Hal teknis paling menarik pada Powershot V1 ini mungkin ada di sensornya. Ini adalah sensor CMOS 3:2 dengan ukuran 1,4 inci. Ini jelas lebih besar dibandingkan sensor 1 inci, yang merupakan sensor terbesar yang bisa ditemukan pada smartphone. Sementara itu, kalau dibandingkan dengan sensor kamera mirrorless, seharusnya sensor ini mirip dengan yang dipakai oleh sistem micro four third. Bedanya, micro four third ini sensornya 4:3. Kalau ini, sensornya kurang lebih sama lebarnya, tapi rasionya 3:2.

Jadi kalau untuk merekam video yang umumnya 16:9, penampang sensor yang dipakai akan kurang lebih sama, antara sensor micro four third dengan sensor 1.4” pada Powershot V1. Menarik kan? Jadi untuk video, pada dasarnya V1 bisa bersaing dengan kamera mirrorless.
Paket Penjualan

- Kamera PowerShot V1
- Baterai LP-E17. Ini baterai yang sama yang digunakan Canon di berbagai kamera mereka.
- Camera strap
- Windscreen untuk mic yang bisa dipasang di hotshoe.
Nah, soal PowerShot V1 ini, warna dasar bodinya hitam. Sebagian besar permukaan bodi ini dilapisi karet dengan tekstur agak kasar agar tidak licin saat dipegang. Dimensinya sekitar 118.3 × 68.0 × 52.5 mm. Sementara bobotnya di kisaran 426 gram dalam kondisi baterai dan SD Card terpasang di dalam.
Desain Canon PowerShot V1

Sekarang, kita coba lihat ada apa saja di bodi kamera ini.

Di sisi kanan ada konektor Micro HDMI untuk menghubungkan kamera ini ke layar display atau alat perekam khusus. Lalu ada juga konektor USB C untuk transfer data sekaligus untuk charging. Kalau mau charging kamera lewat port ini, bisa pakai charger PD-E2 dari Canon atau charger PD dengan rating daya yang serupa.
Di atas kedua port itu, ada juga:

- Port mikrofon dengan jack 3.5 mm
- Port headphone dengan jack 3.5mm untuk monitoring audio
Semua konektor di sisi kanan ini dilindungi oleh penutup dari bahan karet.
Beralih ke sisi atas kamera, di area tengah ada sebuah “hotshoe” atau resminya “multi function shoe” untuk perangkat Canon yang pakai konektor khusus di pangkal dalamnya. Ini bisa untuk mikrofon eksternal khusus, dan lain sebagainya.
Sayangnya hotshoe ini tidak punya kontak klasik, jadi tidak bisa dipakai untuk flash studio atau flash third party tanpa adaptor khusus. Tapi “hotshoe” ini masih bisa dipakai sebagai cold shoe, misalnya untuk aksesoris windscreen untuk mic seperti ini ya. Untuk mounting aksesori lain bisa juga, karena ukurannya sama seperti hotshoe pada umumnya.
Beralih ke area di kanan hotshoe, terlihat ada tombol On/Off dengan lampu indikator atau tally light di dekatnya. Ada juga grill untuk microphone built-in di kamera ini. Lalu, ke kanan lagi, di area depan ada tombol shutter yang dikelilingi oleh rocker/mekanisme pengaturan zoom. Ada juga tombol khusus untuk record video di kanan shutter.

Sementara di area belakang, ada dial pengaturan mode kamera. Ada pilihan mode-mode yang cukup umum, seperti P, M, Tv, Av, beberapa preset custom, serta Full Auto, Scene, dan Creative Filter Mode.
Di bawah dial ini ada switch untuk pengaturan kamera apakah untuk foto atau video.

Beralih ke sisi kiri. Terlihat ada lubang intake dengan ukuran yang cukup besar di area tengah. Sementara di area atas sisi kiri ini ada lubang exhaust. Ini merupakan bagian dari sistem pendingin kamera ini.
Nah, di sisi belakang, di kiri ada layar dari kamera ini. Ada engsel 2 arah yang membuat layar ini bisa kita buka ke samping seperti ini, serta bisa kita putar ke depan atau ke bawah. Ini adalah layar 3” dengan rasio 3:2 dan ini merupakan touchscreen.

Ke sisi belakang kanan, ada tombol Exposure Lock dan tombol Multi Fungsi. Turun sedikit, ada tombol pengaturan khas Canon yang merupakan perpaduan D-Pad dan dial. Jadi lingkaran bergerigi yang mengelilingi D-Pad ini diputar untuk pengaturan parameter.

Nah, D-Pad ini tentunya bisa digunakan untuk navigasi di menu, untuk mengarahkan kursor sesuai arah tombol D-Pad. Tapi, ada juga fungsi pengaturan yang bisa dibuka dengan cepat lewat tombol arah D-Pad ini. Kalau D-Pad ini ditekan ke atas, ini bisa untuk masuk pengaturan ISO, atau bisa juga untuk menghapus file kalau kita ada di mode preview. Kalau ditekan ke kanan ini bisa untuk pengaturan mode drive dan self-timer. Lalu, kalau ditekan ke bawah, ini untuk pengaturan informasi yang muncul di layar. Kalau ditekan ke kiri, ini untuk membuka pengaturan AF/MF. Sementara di tengah ada tombol SET, sekaligus shortcut untuk Q Menu.

Turun lagi, ada tombol Playback/Preview hasil foto dan video, serta ada tombol Menu.
Sekarang, kita ke bagian depan. Ini lensa built–in dari Powershot V1. Ini adalah lensa 8.2 – 25.6 mm, yang berarti menawarkan zoom sekitar 3.1x. Untuk gambaran, lensa ini setara dengan lensa zoom 16-50mm untuk format 35mm. Saat merekam video, karena ada crop jadi dia akan setara 17-52mm. Jadi ini lensa Ultra Wide to Normal Zoom.

Lensa ini menawarkan aperture max di f/2.8 sampai f/4.5 tergantung focal length yang kita gunakan. Sementara minimum aperture-nya di f/11. Bagi kami, f/2.8 Ini adalah bukaan yang wajar mengingat ini adalah lensa zoom Ultra Wide. G7X Mark iii bisa f/1.8 karena lensanya hanya berawal dari Wide biasa.
Ada image stabilization yang ditawarkan oleh lensa ini. Lalu, ada Control Ring yang mengelilingi lensa. Fungsinya bisa untuk mengubah parameter setting tertentu, mirip dengan ring pengaturan diafragma pada lensa kamera model klasik. Lalu, di kiri lensa ada tally light yang sama dengan yang ada di atas tadi, ini bisa dilihat juga dari depan ya. Ada juga lampu untuk membantu auto focus.

Sekarang kita lihat bagian bawahnya. Di kiri ada penutup yang kalau dibuka ada kompartemen untuk baterai dan SD Card di dalamnya. Ada lubang pemasangan tripod. Yang perlu diperhatikan, posisinya cenderung center ke bodi kamera, bukan di poros lensa.

Simak pembahasan lebih lengkapnya berikut ini:













