Perplexity AI Rilis Browser AI Bernama Comet
Satu per satu perusahaan AI mulai ikut terjun ke dunia browser. Bukan sekadar bikin tampilan baru atau janji kecepatan tinggi, tapi mencoba mengganti cara kita menjelajah internet dari dasar. Kini, giliran Perplexity AI memperkenalkan Comet, browser cerdas yang dibekali kemampuan AI yang bakal mengubah cara orang-orang berselancar.

Comet bukan hanya tempat membuka situs. Di dalamnya, pengguna bisa berinteraksi dengan berbagai aplikasi kerja seperti Slack, memberikan perintah suara, atau mengetik pertanyaan kompleks dan langsung mendapat jawaban. Semua ini dirancang untuk mempercepat pekerjaan, bukan sekadar membuka tab demi tab.
Bukan Browser Gratis
Peluncuran resminya dilakukan Rabu kemarin. Sebelumnya, Comet sudah hadir lebih dulu dalam versi akses awal di Windows sejak Mei. Kini, tersedia akses untuk pengguna premium lewat paket Perplexity Max seharga USD 200 per bulan. Untuk publik yang lebih luas, akses akan digulirkan perlahan melalui sistem undangan sepanjang musim panas ini.
Masuk ke pasar browser tentunya bukan hal sepele. Google Chrome masih jadi raja dengan penguasaan pasar global sekitar 68% per Juni 2025, menurut data dari StatCounter. Tapi Comet tidak sendirian. Beberapa pemain lain juga sudah mencoba masuk, termasuk The Browser Company yang belum lama ini meluncurkan Dia, dan OpenAI yang kabarnya juga bakal merilis browser AI.
Baca Juga: NVIDIA Pecahkan Rekor, Perusahaan Pertama dengan Valuasi USD 4 Triliun • Jagat Review
Dalam blog resminya, disebutkan kalau Comet dibangun untuk menjawab kebutuhan pengguna, dimana internet bukan sekadar tempat mencari info melainkan tempat bekerja, berpikir, dan berinteraksi. Namun kita masih terjebak di browser dengan sistem tab dan tautan yang putus nyambung. Comet ingin membuat interaksi itu lebih mengalir, seolah kita sedang berpikir, bukan mengetik perintah.
Fitur utama Browser Milik Perplexity
Salah satu fitur utama di browser ini dalah Comet Assistant. Ini adalah agen AI yang hidup di dalam browser dan bisa membantu meringkas email, menjawab pertanyaan sesuai konteks halaman yang sedang dibuka, bahkan mengatur jadwal harian. Asisten ini bisa muncul di mana saja, memberi bantuan tanpa harus berpindah aplikasi.
Navigasi juga dibuat lebih rapi. Pengguna bisa menggabungkan banyak tab ke dalam satu tampilan yang lebih terorganisir, jadi tidak lagi kewalahan dengan tumpukan tab yang berjejer tak berujung.
Namun untuk memaksimalkan semua itu, Perplexity butuh akses yang dalam ke akun Google pengguna. Mulai dari melihat layar, mengirim email, mengakses daftar kontak, sampai menambahkan acara ke kalender. Ini membuka banyak peluang, tapi juga menimbulkan pertanyaan soal privasi.
Hadirnya browser ini ini, memungkinkan cara kita berinteraksi dengan internet untuk berubah total. Tentunya kita juga penasaran apakah browser lain, termasuk Chrome yang masih jadi paling populer saat ini juga bakal merubah sistem mereka dengan menjadikannya “Browser AI”? Dan apakah juga pengguna bakal meninggalkan cara lama dan beralih ke cara baru lewat browser AI ini? Menarik ditunggu
















