Muslim Pro Soroti Peran AI dan Platform Sosial di Aplikasinya
Jakarta, 3 Februari 2026 – Menjelang Ramadan 2026, Muslim Pro kembali menyoroti pemanfaatan teknologi di dalam aplikasinya melalui chatbot AI AiDeen serta platform sosial internal bernama Ummah. Meski keduanya bukan fitur baru, Muslim Pro menempatkan kedua layanan ini sebagai bagian dari pengembangan berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan pengguna. Pendekatan ini juga menarik perhatian karena mereka memilih jalur teknologi yang lebih terkendali dibandingkan tren aplikasi berbasis AI umumnya.

Chatbot AI di Aplikasi Muslim Pro
AiDeen sendiri merupakan chatbot AI yang telah mereka rilis sejak 2024 dalam tahap beta. Chatbot ini dirancang untuk membantu menjawab berbagai pertanyaan kita dengan sumber rujukan terbatas, yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Berbeda dengan chatbot AI generatif lain, AiDeen tidak menelusuri atau mengambil informasi dari sumber publik di internet, sehingga konteks jawaban tetap berada dalam ruang lingkup yang telah ditentukan.

CEO Muslim Pro, Nafees Khundker, menjelaskan bahwa pembatasan sumber tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas dan akurasi informasi. Menurut Khundker, kualitas menjadi prioritas utama dalam pengembangan AI, terutama ketika sistem digunakan untuk menjawab pertanyaan dengan konteks keagamaan. Ia menegaskan bahwa AiDeen hanya dilatih menggunakan sumber yang telah ditetapkan, tanpa mengambil data dari sumber publik yang ada di Internet.
Baca Juga: Google Chrome Hadirkan Fitur AI Baru “Auto Browse”, Bisa Buat Apa Aja?
Menariknya, pendekatan ini juga membuat AiDeen bisa mengenali keterbatasannya sendiri. Ketika pengguna mengajukan pertanyaan yang tidak memiliki rujukan di dalam sumber yang digunakan, sistem tidak akan menghasilkan jawaban spekulatif. Sebaliknya, AiDeen akan menjawab kalau AI tersebut belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan.

Platform Sosial Media Internal Ummah
Selain AiDeen, Muslim Pro juga menyoroti Ummah, platform sosial internal yang telah tersedia sejak Februari 2025. Platform ini memungkinkan pengguna untuk berbagi konten dan berinteraksi dengan komunitas global di dalam ekosistem Muslim Pro, dengan konsep yang menyerupai layanan microblogging. Namun, Ummah tidak sepenuhnya terbuka seperti platform sosial pada umumnya.
Muslim Pro menjelaskan bahwa Ummah menerapkan moderasi berbasis AI untuk menjaga kualitas konten yang dibagikan pengguna. Sistem moderasi tersebut diperkuat dengan pengawasan manusia yang dilakukan secara berkala untuk memastikan informasi tetap akurat. Dengan pendekatan ini, pengguna tidak dapat memposting konten secara bebas tanpa kontrol, guna meminimalkan potensi bias maupun penyebaran informasi yang tidak sesuai.
Melalui pengembangan AiDeen dan Ummah, Muslim Pro menunjukkan fokus pada pemanfaatan teknologi yang lebih terkendali, baik dalam penerapan kecerdasan buatan maupun pengelolaan platform sosial. Menjelang Ramadan, pendekatan ini menjadi bagian dari upaya Muslim Pro dalam menjaga kualitas informasi dan pengalaman pengguna di tengah meningkatnya aktivitas di dalam aplikasi. Kalau kalian gimana, ada yang pernah coba AI di aplikasi Muslim Pro?













