AI Bantu Deteksi Kanker Paru Lebih Cepat
Kecerdasan buatan atau AI semakin banyak dimanfaatkan di sektor kesehatan. Di Inggris, teknologi ini kini digunakan untuk membantu dokter mendeteksi kanker paru lebih cepat melalui analisis hasil foto rontgen. Pemerintah setempat bahkan mengalokasikan investasi sebesar £20 juta untuk memperluas penggunaan teknologi tersebut di layanan kesehatan nasional atau NHS.
Teknologi AI yang saat ini telah tersedia di sekitar separuh lembaga NHS di Inggris itu diklaim sudah membantu lebih dari 4 juta orang menerima diagnosis yang lebih cepat atau memperoleh kepastian bahwa mereka tidak mengidap kanker paru-paru. Ke depannya, pemerintah Inggris menargetkan teknologi tersebut dapat diterapkan di seluruh lembaga NHS pada 2029.
Mike Jones, manajer AI dan digital di Royal Surrey NHS Foundation Trust, menjelaskan bahwa sistem tersebut memiliki dua fungsi utama, yakni penentuan prioritas dan dukungan pengambilan keputusan klinis. AI dapat membaca hasil pemindaian terlebih dahulu, menandai temuan yang dianggap mencurigakan, sekaligus membantu menentukan pasien kanker mana yang perlu diprioritaskan untuk diperiksa lebih lanjut.
Baca Juga: PC Gaming Jadi Tameng Tak Terduga, Selamatkan Pemilik dari Peluru Nyasar
Penanganan Pasien Kanker
Jones menambahkan bahwa sebelumnya hasil rontgen diproses berdasarkan urutan kedatangan pasien. Kini, AI melakukan pra-analisis terhadap hasil pemindaian sehingga kasus kanker paru-paru yang dianggap lebih mendesak dapat langsung dipindahkan ke antrean teratas. Meski begitu, keputusan akhir tetap berada di tangan dokter yang dapat menerima, mengubah, atau mengabaikan hasil analisis dari AI.
Data awal menunjukkan teknologi ini mampu memangkas waktu analisis kasus kompleks dari rata-rata delapan hari menjadi sekitar empat hari. Pemerintah Inggris menegaskan bahwa AI tidak ditujukan untuk menggantikan tenaga medis, melainkan melengkapi kemampuan dokter dalam menemukan indikasi penyakit lebih cepat dan lebih akurat. Menurut kamu, apakah teknologi seperti ini sudah layak diterapkan lebih luas di layanan kesehatan?















