Apple AirTag Dipasang di Buku Tua, Berakhir di Pusat Pelatihan AI
Sebuah buku langka yang dipasangi Apple AirTag dan dilacak keberadaannya, setelah pesanan ribuan buku yang cukup mencurigakan. Investigasi ini dilakukan oleh 404 Media, yang akhirnya menemukan bahwa buku tersebut berakhir di gudang Amazon VGT3.

Menurut keterangan sejumlah pekerja, aktivitas di VGT3 memang berfokus pada pemindaian buku. Punggung buku dipotong agar halaman dapat dilepas dan dimasukkan ke scanner industri, sementara ISBN setiap buku juga wajib dipindai selama proses tersebut.
Baca Juga: Robot Humanoid Terbaru Unitree Diklaim Bisa Lari Lebih Kencang dari Usain Bolt • Jagat Review
Rupanya, belakangan ini memang banyak pesanan buku dalam jumlah sangat besar yang diterima penjual buku bekas. Seorang penjual buku di Irlandia, misalnya, pernah menerima pesanan sekitar 5.000 buku dengan isi yang sangat beragam dan menduga buku-buku tersebut akan digunakan untuk kebutuhan AI.
Pesanan seperti itu juga disebut semakin sering muncul sejak perusahaan AI membutuhkan lebih banyak data untuk melatih model mereka. Buku menjadi salah satu sumber yang menarik karena menyediakan informasi dalam jumlah besar dan mencakup berbagai bidang.
Namun, metode pemrosesan di VGT3 membuat buku fisik harus dikorbankan. Setelah bagian punggung dipotong, halaman bisa dipindai lebih cepat, tetapi buku tersebut praktis tidak lagi dapat digunakan seperti sebelumnya.
Memindai Buku Secara Massal, Banyak Dilakukan Perusahaan Teknologi
Pemindaian buku secara massal sebenarnya sudah dilakukan sejak era Google Books. Google menggunakan scanner khusus yang dapat membuka buku tanpa merusak bagian punggungnya, sehingga buku tetap bisa dikembalikan setelah selesai didigitalisasi.
Tapi perusahaan AI kini menghadapi kebutuhan data dalam skala berbeda. Dokumen pengadilan sebelumnya mengungkap proyek Anthropic bernama Project Panama yang ditujukan untuk melakukan pemindaian buku secara destruktif dalam jumlah besar.
Persoalan hak cipta juga membuat cara memperoleh buku menjadi perhatian. Anthropic pernah dikenai denda USD 1,5 miliar terkait penyimpanan sekitar 7 juta buku bajakan, sedangkan dalam gugatan terhadap Meta terungkap perusahaan tersebut pernah memiliki hampir 82 TB buku hasil pembajakan.
Membeli buku bekas dalam jumlah besar kemudian menjadi salah satu opsi yang lebih ekonomis untuk memperoleh materi tersebut. Dibandingkan membeli versi digital jutaan buku, membeli salinan fisik murah lalu memindainya secara massal dapat memangkas biaya secara signifikan.
Kasus ini menunjukkan bahwa kebutuhan data AI tidak hanya berdampak pada industri server dan komputasi. Di balik proses pelatihan model, ada pula industri pengadaan dan digitalisasi buku yang kini bekerja dalam skala besar, termasuk dengan menghancurkan buku fisik agar isinya dapat diproses sebagai data.












