Inovasi-Inovasi Baru Huawei di Perangkat Produktivitas (Laptop dan Tablet)
Dalam kunjungan kami ke markas Huawei pekan lalu, Huawei juga memaparkan tentang beberapa inovasi mereka yang terbaru pada perangkat produktivitas, termasuk diantaranya laptop dan tablet. Huawei membawa cukup banyak perubahan ke lini MateBook dan MatePad terbaru.
Pengembangannya mencakup material bodi, susunan komponen internal, sistem pendinginan, teknologi layar, sampai pemanfaatan AI untuk membantu pekerjaan. Meskipun beberapa inovasi ini justru ada di bagian yang tidak langsung terlihat dari luar.

MateBook Pro S terbaru punya bobot hanya 798 gram, menjadikannya salah satu laptop dengan bobot paling ringan saat ini. Huawei menggunakan magnesium-lithium alloy pada bodinya untuk menekan bobot hingga 25 persen dibanding penggunaan material konvensional. Permukaannya kemudian dilindungi dengan vacuum sputter coating.
Di bagian internal, Huawei menggunakan embedded mainboard packaging untuk membuat susunan komponen lebih padat. Ketebalan susunan motherboard bisa ditekan hingga 22 persen, sehingga ruang yang tersedia di dalam bodi bisa dimanfaatkan untuk komponen lain seperti baterai dan sistem pendinginan.
Huawei juga merancang ulang sistem pendingin dengan vapor chamber dua lapis, material thermal liquid metal, serta struktur kapiler yang baru. Menurut Huawei, efisiensi pendinginannya meningkat hingga 80 persen, sementara kemampuan pendinginan secara keseluruhan meningkat hingga 30 persen.
Baca Juga: Epson Rilis Jajaran Proyektor 4K Home Cinema Terbarunya
Lalu berikutnya ada MatePad Pro Max hadir dengan bodi setipis sekitar 4,7 mm dan bobot mulai 499 gram. Huawei menggunakan konstruksi full-metal unibody dengan Cloud Falcon Architecture untuk menjaga struktur perangkat tetap kuat meski dimensinya sangat tipis.
Pada struktur intenalnya, Huawei menggunakan konstruksi mortise and tenon yang terinspirasi dari teknik sambungan kayu tradisional China. Struktur ini dirancang supaya bagian-bagian perangkat saling mengunci dan membentuk konstruksi yang lebih kokoh.
Teknologi layar PaperMatte juga selalu tak terlewatkan. MatePad Pro 12.2 membawa teknologi Tandem OLED yang menggunakan dua lapisan OLED untuk meningkatkan tingkat kecerahan sekaligus efisiensi panel.
Layarnya punya resolusi 2800 x 1840 piksel dan refresh rate hingga 144Hz. Untuk varian PaperMatte, tingkat kecerahan puncaknya bisa mencapai 2000 nits. Teknologi PaperMatte di sini juga mendapat manfaat dari proses nano-level etching untuk mengurangi pantulan dan efek sparkle tanpa mengorbankan detail gambar.

Huawei juga terus mengeksplorasi format laptop dengan MateBook Fold 18. Sesuai namanya, perangkat ini menggunakan layar lipat berukuran 18 inci ketika dibuka.
Tantangan utama pada perangkat seperti ini ada pada bagaimana membuat layar tetap fleksibel sekaligus cukup tahan untuk penggunaan sehari-hari. Huawei menggunakan Ultra Thin Glass atau UTG sebagai bagian dari solusi untuk menjaga fleksibilitas sekaligus ketahanan panel.
Peningkatan di Software: Huawei Notes dan WPS Office
Inovasi Huawei di MatePad juga masuk ke software. Huawei Notes kini memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan yang dilakukan menggunakan stylus.
Fitur AI Handwriting Enhancement bisa merapikan tulisan tangan supaya lebih mudah dibaca. Ada juga transkripsi suara secara real-time yang bisa membedakan pembicara, sehingga percakapan atau diskusi lebih mudah dicatat.
Untuk kebutuhan akademis, Gauss AI bisa memahami soal matematika yang ditulis menggunakan stylus, kemudian memberikan penjelasan langkah demi langkah.
AI juga masuk ke WPS Office yang digunakan di perangkat MateBook dan MatePad. Pengguna bisa memanfaatkannya untuk membantu membuat draft, menyusun presentasi, sampai menganalisis data pada spreadsheet.
Jadi, pemanfaatan AI di sini tidak berdiri sebagai fitur terpisah, tetapi ditempatkan langsung di aplikasi yang memang dipakai untuk bekerja dan belajar.
Kalau dilihat dari perangkat-perangkat tersebut, Huawei memang melakukan pengembangan di banyak bagian sekaligus. Dari material dan struktur bodi, susunan motherboard, pendinginan, layar, konektivitas, sampai software berbasis AI.
Hasil yang terlihat pengguna memang berupa laptop dan tablet yang semakin tipis, ringan, dan punya lebih banyak kemampuan. Namun di balik bentuk tersebut, Huawei justru harus membuat teknologi internalnya semakin kompleks.















