BlackBerry Bangkit Lewat Robot AI, Bukan Hape Lagi!
Sejak era kejayaannya di dunia smartphone berakhir beberapa tahun silam, BlackBerry ternyata tidak benar-benar “mati”. Faktanya, perusahaan asal Kanada tersebut tengah bersiap untuk bangkit lewat bisnis lain di luar hape.
Dalam wawancaranya dengan CNBC, CEO BlackBerry John Giamatteo menilai robot yang ditenagai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai kesempatan bagi BlackBerry untuk terus bertumbuh. Namun, ini bukan berarti BlackBerry akan membuat produk robot. Peluang yang dilihat perusahaan tersebut ternyata berkaitan dengan OS QNX bikinannya.
BlackBerry Lirik Robot AI Lewat QNX

Menurut Giamatteo, robotik saat ini sudah menjadi salah satu bisnis yang berkembang pesat bagi BlackBerry. Berbeda dari AI generatif yang banyak menghasilkan teks, video, hingga gambar, physical AI memungkinkan mesin untuk berinteraksi dengan dunia nyata.
Nah, di sinilah letak kesempatan yang dilihat oleh BlackBerry. Perusahaan tersebut mengembangkan bisnis QNX, sistem operasi yang dirancang untuk membantu mesin beroperasi secara aman dan andal. Kemampuan ini menjadi penting ketika AI mulai digunakan pada mesin fisik yang harus menjalankan perintah dengan tepat, bukan sekadar menghasilkan jawaban di layar.
Contohnya, robot yang bekerja di gudang harus bisa bergerak, membawa barang, dan menghindari hambatan di sekitarnya. Begitu juga dengan forklift otonom yang perlu menjalankan tugasnya secara aman di lingkungan kerja yang ramai. Sistem operasi yang digunakan harus bisa diandalkan agar mesin tersebut dapat menjalankan tugasnya sesuai instruksi.
BlackBerry sendiri sudah punya pengalaman di bidang ini lewat QNX, yang selama ini banyak digunakan di industri otomotif. Pengalaman tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk memperluas penggunaan teknologinya ke robotik dan otomasi industri.
“Taruhan” BlackBerry pun tampaknya mulai menunjukkan hasil. Pada 20 Oktober 2026, perusahaan mengumumkan bahwa royalty backlog QNX telah melampaui US$1,2 miliar. Nilai tersebut meningkat lebih dari US$250 juta dalam dua kuartal terakhir, atau tumbuh lebih dari 26% dibandingkan sekitar US$950 juta pada akhir tahun fiskal 2026.
Namun, angka tersebut bukan berarti BlackBerry sudah menerima uang royalti sebesar US$1,2 miliar. Royalty backlog merupakan estimasi pendapatan royalti di masa depan dari program yang telah mendapatkan kesepakatan, berdasarkan perkiraan volume produksi dan tarif royalti QNX.
Pendapatan tersebut baru akan diakui ketika program pelanggan mulai diproduksi dan volumenya meningkat. Meski begitu, kenaikan nilai backlog ini menunjukkan adanya peluang pendapatan yang makin besar bagi bisnis QNX.
BlackBerry menyebut pertumbuhan tersebut didorong oleh beberapa faktor, mulai dari penggunaan sistem komputasi yang lebih canggih di mobil, penawaran software yang semakin luas, hingga munculnya peluang baru dari physical AI.
Baca Juga: Apakah AI Itu Robot? Ini Perbedaannya
QNX Sudah Digunakan di 275 Juta Kendaraan
Meski robotik menjadi salah satu fokus pertumbuhan baru, sektor otomotif masih menjadi bisnis penting bagi QNX. Teknologinya digunakan untuk berbagai fungsi kendaraan, termasuk sistem yang berkaitan dengan pengereman dan sejumlah fitur berkendara semi-otonom.
Tidak main-main, QNX sudah digunakan di lebih dari 275 juta kendaraan di seluruh dunia. Angka ini menunjukkan bahwa bisnis BlackBerry sekarang sangat berbeda dibandingkan ketika perusahaan tersebut dikenal lewat hape dengan keyboard fisiknya.
“Produk yang kami jual saat ini tidak bisa digenggam tangan kalian, tetapi ternyata ada banyak di sekitar Anda,” kata Giamatteo kepada CNBC.
Selain otomotif, QNX juga digunakan di berbagai sistem tertanam yang membutuhkan keamanan dan keandalan tinggi. Kemampuan tersebut menjadi modal BlackBerry untuk menawarkan teknologinya ke sektor lain, termasuk perangkat medis, otomasi industri, dan robotik.
BlackBerry mungkin tidak akan kembali meramaikan pasar hape seperti dulu. Namun, dengan QNX dan peluang dari perkembangan robot berbasis AI, perusahaan asal Kanada ini masih punya kesempatan untuk tumbuh lewat bisnis yang berbeda. Bisakah BlackBerry menemukan kejayaannya kembali lewat AI? Menarik untuk ditunggu.














