Masih Password “123456,” 3 Perusahaan di Denmark Bocorkan Data 8,8 Juta Orang
Password dengan angka berurut, biasanya hanya dipakai untuk membuat akun testing atau hal apapun yang tidak krusial. Nah, masalahnya masih ada sekelas perusahaan besar yaung menggunakan kombinasi angka sederhana ini.

Ya, baru-baru ini terjadi di Denmark, dimana password sederhana 123456, menjadi salah satu celah dalam kasus pencurian data kependudukan yang berdampak pada 8,8 juta orang. Kasus ini melibatkan akses sebuah perusahaan teknologi ke sistem pemerintah, dengan informasi yang terekspos mencakup nama, alamat, dan nomor identitas penduduk.
Celah Password 123456, Diakui Langsung Oleh Hacker
Menurut pengakuan peretas kepada media Denmark Politiken, setidaknya tiga akun milik perusahaan yang menjadi sasaran menggunakan password 123456 yang sama, termasuk akun administrator. Peretas mengklaim bahwa akses tersebut dimanfaatkan untuk menembus sistem melalui perusahaan yang memang memiliki izin mengakses data kependudukan.
Perusahaan yang terkait dengan insiden ini adalah Pays ApS. Perusahaan tersebut menggunakan akses resminya ke sistem kependudukan Denmark untuk layanan seperti validasi data pelanggan bisnis. Direktur perusahaan mengakui bahwa akses tersebut telah dieksploitasi. Sementara itu, menurut dokumen yang dilihat TV2, pelaku menjalankan sekitar 14 juta pencarian otomatis antara 10 dan 20 September.
Baca Juga: TCL Tengah Kembangkan Panel OLED 700Hz untuk 2028
Aktivitas tersebut akhirnya terdeteksi setelah seorang pegawai kementerian menemukan tagihan yang menunjukkan lonjakan pencarian data secara tidak wajar. Peretas mengklaim tidak berniat menjual atau membocorkan informasi yang diperoleh, tetapi belum ada jaminan bahwa data tersebut benar-benar tidak akan disalahgunakan.
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa keamanan sistem tidak cukup hanya mengandalkan pembatasan akses atau teknologi canggih. Password yang mudah ditebak, apalagi jika digunakan pada akun administrator, bisa menjadi titik lemah yang serius. Penggunaan password unik untuk setiap akun, autentikasi multifaktor, serta pembatasan hak akses menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko serupa.















