Review Canon EOS R6 V: Kamera Termurah untuk Kelas Kemampuannya!

Ini harusnya adalah kamera yang dicari banyak orang yang berurusan dengan perekaman video. Butuh kualitas rekaman kelas atas? Bingung mau rekam vertikal atau horizontal? Kamera Full Frame ini bisa rekam video 7K Open Gate RAW 3:2.
Takut hasilnya gempa parah? Dia punya IBIS built in. Takut kamera jadi panas? Ada kipas internalnya. Kalau urusan Log doang sih udah pasti ada yaaa.. Tentunya, harganya tidak bisa 10-20 juta ya. Tapi untuk kemampuan spesifiknya, ini adalah opsi kamera termurah lho..

Kenapa bisa begitu? Mari kita bahas saja langsung, Canon EOS R6V ini.
Canon EOS R6V. Ini adalah kamera bersensor Full Frame yang dirancang untuk perekaman video kelas profesional, tapi harga dan fiturnya lebih bersahabat. Pahami dulu bahwa banyak yang tertarik ingin memiliki kamera dengan kualitas gambar seperti kamera Cinema, contohnya seperti C50. Tapi, maunya harganya lebih murah dan butuh IBIS supaya ga goyang-goyang kalau diajak vlogging.

Target kamera ini harusnya: Konten Kreator yang serius, Videografer profesional (baik yang pemula maupun yang sudah berpengalaman), solo filmmaker, dan para agensi yang terkait konten. Tapi karena kemampuannya, harusnya dia jadi idaman semua orang yang berkecimpung di dunia videografi ya. Kualitas Cinema dengan harga terjangkau kan. Bahkan sensornya pun sama dengan kamera seri Cinema dari Canon lho.

Kali ini kita akan membahas R6V dari sudut pandang kreator. Sebagai catatan, kami sudah pakai EOS R8 yang juga full frame sensor. Jadi, harusnya kita bisa membahas upgrade yang terasa dengan beralih ke kamera yang dirancang untuk kebutuhan videografi profesional ini. Mari kita mulai pembahasan ini dari paket penjualan dan fiturnya.
Paket Penjualan

- Bodi kamera EOS R6 V
- Baterai LP-E6P, ini baterai dengan kapasitas lebih besar dari LP-E17 yang digunakan Canon untuk berbagai kamera mereka.
- Charger baterai LC-E6E
- Camera strap
- Body Cap
- Penutup untuk Shoe


Kamera ini punya bodi yang cukup besar dengan warna dasar hitam. Dimensi bodinya sekitar 141.8 × 83.3 × 79.7 mm. Bobotnya di kisaran 720 gram dalam keadaan baterai, SD Card, dan strap terpasang. Jadi, ini memang kamera yang terasa besar dan berat, tapi masih terbilang wajar untuk kamera mirrorless full frame.
Desain Canon EOS R6 V

Sekarang, kita coba lihat ada apa saja di bodi kamera ini.
Di sisi kanan ada penutup untuk slot memory card. Saat penutup ini dibuka, terlihat ada dua slot di sini, satu untuk CFexpress Type B dan satu lagi untuk SD Card. Kapasitas storage bisa sampai 8 TB. Menariknya, di sisi kanan ini ada juga lubang mounting tripod. Jadi, kamera ini bisa dipasang di tripod dalam posisi vertikal seperti ini. Bisa mempermudah kita kalau mau shooting video vertikal.

Lanjut, untuk sisi atas, kita mulai dari area kiri. Ada switch untuk mode Photo atau Video. Ada focal plane marker dan dua microphone di depan switch tersebut. Sedikit ke belakang, ada tombol dengan label angka “7”. Nanti kita coba lihat apa maksud dari label angka tersebut. Lalu, ada juga tombol Menu yang tentunya digunakan untuk membuka menu pengaturan utama dari kamera ini.


Geser sedikit ke kanan, ada “Multi Function Shoe” dengan konektor khusus di pangkal dalamnya. Ini tentunya bisa untuk memasang aksesoris khusus dari Canon. Seperti kebanyakan kamera baru dari Canon, “Shoe” ini tidak punya konektor klasik. Jadi, ini tidak kompatibel dengan perangkat seperti flash third party. Harus pakai adaptor tambahan. Tapi, kalau mau dipakai sekadar sebagai dudukan untuk mic tambahan atau beberapa perlengkapan tambahan lain, bisa saja karena ukurannya sama dengan “Hot Shoe” pada umumnya.


Terlihat juga, di bagian atas ini, tidak ada built in flash ya. Geser ke kanan lagi, ada satu lubang speaker. Lalu, ada tombol dengan label “6”. Lanjut lagi, ada dial untuk pemilihan Shooting Mode. Nah, mode yang tersedia ada: M, Av, Tv, P, Fv (Flexible Priority AE), Scene Intelligent Auto, Movie Close Up, Special Scene, S&F (Slow/Fast Motion Movie), dan ada juga 3 preset Custom.

Lalu, di dekat dial Shooting Mode, ada juga tombol dengan label “5”. Lalu, ada Quick Control Dial 2 dan Switch Power On/Off. Maju agak ke depan, ada Main Dial, tombol dengan label “4”, serta tombol Shutter yang juga berfungsi sebagai tombol untuk Movie Record. Nah, di bagian depan Shutter, ada juga slider untuk fungsi Power Zoom. Jadi, ini bisa kita gunakan untuk mengatur zoom lensa yang mendukung Power Zoom. Oh, iya, di kiri dan kanan sisi atas ini juga ada mounting untuk pemasangan strap.

Beralih ke sisi kiri. Ada beberapa jack dan konektor yang semuanya dilindungi penutup dari karet. Di barisan depan, ada dua jack 3.5 mm untuk external microphone dan headphone. Ada juga satu konektor untuk remote. Sementara di barisan belakang, ada konektor HDMI Out yang menggunakan jack HDMI standar, bukan Mini HDMI ataupun Micro HDMI. Ada juga satu port USB C untuk Digital Terminal. Ini bisa digunakan untuk menghubungkan kamera ke PC atau untuk menghidupkan kamera serta isi ulang baterai dengan adaptor khusus seperti Canon PD-E2 atau charger USB PD dengan daya mencukupi lain. Kecepatan port USB C ini kurang lebih setara USB 3.2 Gen 2.



Nah, di sisi kiri ini ada juga lubang exhaust untuk fan yang merupakan bagian dari sistem pendingin kamera. Lanjut lagi ke sisi belakang. Ada layar 3” yang pakai engsel dua arah. Ini membuat layar bisa kita buka ke samping seperti ini serta kita putar ke depan atau ke bawah. Layar ini punya rasio 3:2 dan tentunya ini touchscreen.
Sekarang, kita coba lihat ada apa saja di kanan layar ini.

Mulai dari bawah, ada tombol Playback/Preview untuk melihat galeri hasil foto dan video, serta ada tombol Delete yang juga bisa digunakan untuk “Lock” yang membuat beberapa tombol dan dial tidak bisa digunakan untuk mengubah parameter. Ke atas lagi, ada tombol pengaturan yang merupakan perpaduan D-Pad dan rotary dial. Jadi, selain bisa ditekan untuk navigasi atas, bawah, kiri, dan kanan di menu, lingkaran bergerigi ini bisa diputar ke kiri atau kanan untuk pengaturan parameter.

Di samping kiri D-Pad, ada lampu indikator untuk storage access. Jadi, kalau kita tengah merekam atau membaca data dari storage, lampu ini akan berkedip. Lalu, ada tombol “Q” yang tentunya berfungsi untuk membuka Q Menu khas Canon. Ada juga tombol Info.

OK, lanjut lagi, ada joystick 5 arah yang disebut sebagai “Multi Controller”. Ini salah satu fungsinya bisa untuk mengatur posisi titik fokus dan saat kita tekan bisa mengembalikan titik fokus ke tengah. Terakhir, di paling atas, ada tombol dengan label “1”, “2”, dan “3”.
Jadi, ada tombol dengan label “1”, “2”, “3”, sampai “7”. Secara standar, tombol-tombol ini sudah diatur untuk fungsi tertentu:
- 1 untuk Auto Focus
- 2 untuk Magnify tampilan di layar
- 3 untuk AE Lock
- 4 untuk M-Fn atau menampilkan menu Multi Function atau fitur Send to Smartphone saat kita ada di Gallery
- 5 untuk pengaturan White Balance
- 6 untuk membuka menu Live Streaming atau pencarian gambar saat kita ada di Gallery
- dan 7 untuk membuka menu Color Mode
Nah, tombol-tombol ini bisa diatur atau ditukar fungsinya. Misalnya kita lebih ingin tombol “2” diatur untuk membuka Menu, agar kalau navigasi di menu kita jadi lebih mudah dengan satu tangan. Bisa. Atau misalnya kalau kita ingin menukar fungsi tombol “5” dan “7”, bisa juga. Selain tombol-tombol “angka” tersebut, tombol atas, bawah, kiri, kanan, dan tengah di D-Pad juga bisa diatur fungsinya sesuai kebutuhan kita.

Secara standar, fungsinya adalah sebagai shortcut:
- Atas untuk “Zebra” aktif atau tidak. Ini biasanya untuk membantu memeriksa apakah ada area yang overexposed atau tidak.
- Kiri untuk pengaturan mode Auto Focus
- Bawah untuk membuka menu pemantauan perekaman audio
- Kanan untuk pengaturan Focus Peaking aktif atau tidak.
Kalau butuh mengubah fungsi standar itu ke fungsi lain, bisa juga. Ini seharusnya akan membuat pengendalian kamera jadi lebih sesuai dengan keinginan kita. Tapi, menurut kami, pengaturan standar yang ditawarkan Canon untuk tombol-tombol di kamera ini sebenarnya sudah cukup OK dan terbilang mudah dipelajari.


Sekarang, kita ke sisi depan. Tentunya ada mounting untuk lensa dengan tombol Lens Release di sampingnya. Lalu, di dalam, tentu saja ada sensor kamera. Ini sensor Full Frame CMOS, 32.5 MP! Kamera ini juga mendukung sensor shift untuk mekanisme In Body Image Stabilizer. Nah, mirip dengan kamera Canon dengan fokus ke video yang dirilis belakangan ini, ada juga satu tombol Movie Record di sisi depan. Kalau mau bikin video selfie, ini bisa membantu.


Lalu, ada juga Tally Light atau lampu indikator perekaman di bagian atas sisi depan. Posisi lampu ini juga membuatnya mudah terlihat dari sisi atas kamera. Lanjut ke sisi bawah. Ada satu lagi lubang mounting ke tripod yang posisinya centered ke poros lensa. Ya, pastinya ada lah. Aneh juga kalau mounting cuma ada buat posisi vertikal kan. Hehehe. Lalu, di kanan, ada penutup untuk tempat baterai. Nah, di dalam kompartemen baterai, ada flap yang bisa dibuka kalau kita mau pakai DC Coupler, atau istilah populernya Baterai Dummy. Jadi, flap ini akan membuka jalur untuk kabel masuk ke dummy yang terpasang ke kamera. Di sisi bawah ini juga ada lubang intake untuk masuknya udara untuk sistem pendinginan kamera ini.
Kurang lebih seperti itu ya desain dari Canon EOS R6 V ini.
Spesifikasi Singkat
Terkait spesifikasi yang belum terbahas:

- Prosesor: DIGIC X
- Auto Focus
- Untuk Still/Foto: up to 1053 frame zone
- Mode: One Shot AF, AI Focus AF, Servo AF
- Untuk Movie/Video: up to 897 frame zone
- Mode: One Shot AF, Movie Servo AF
- Untuk Still/Foto: up to 1053 frame zone
- Resolusi Foto: up to 6960 × 4640 piksel
- Resolusi Movie/Video:
- Full HD (1920 x 1080 piksel) up to 179.8 fps
- 2K-D (2048 x 1080 piksel) up to 179.8 fps
- 4K-U (3840 x 2160 piksel) up to 119.9 fps
- 4K-U Fine (3840 x 2160 piksel) up to 59.94 fps
- 4K-D (4096 x 2160 piksel) up to 119.9 fps
- 4K-D Fine (4096 x 2160 piksel) up to 59.94 fps
- 7K (6912 x 4608 piksel) up to 29.98 fps
- Movie Rec Format:
- AVC YCC4:2:0 8-bit
- AVC YCC4:2:2 10-bit
- HEVC YCC4:2:0 10-bit
- HEVC YCC4:2:2 10-bit
- RAW
- HDR Movie Recording: tersedia
- Audio Format:
- LPCM 24-bit, 4 channel
- AAC 16-bit, 2 channel
Simak pembahasan lengkapnya lewat video review beriikut ini:













