Direct Release: Laporan Experian Menyimpulkan Tingkat Kredit Konsumen Indonesia Meningkat Tinggi, Seiring Dengan Penipuan Terkait

Laporan Economis of Fraud dari Experian menemukan fakta bahwa penipuan merupakan masalah regional, tapi tantangannya berbeda-beda di setiap negara
JAKARTA, Indonesia, 18 Mei 2016 – Laporan terkemuka dari Experian Asia Pacific, The Economics of Fraud: Mitigating Risk Amidst Fast Growth and Innovation, menyimpulkan bahwa Indonesia, salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan tertinggi, mengalami lonjakan dalam kredit konsumen dan peningkatan PDB, dan arena itu menjadi titik penipuan kredit.
Laporan ini juga mendalami lansekap penipuan yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik, dan juga mengungkapkan 59% perusahaan di Asia Pasifik mengantisipasi peningkatan penipuan dalam lima tahun mendatang, dengan lebih dari setengah perusahaan yang disurvei (51 persen) mengindikasikan bahwa mereka sekarang menghabiskan lebih banyak waktu dan investasi dalam pencegahan penipuan.
Ringkasan temuan laporan Experian untuk Indonesia:
- Dalam skala 1-5 (5 adalah terparah), di seluruh Asia Pasifik, China (3,9) dan Indonesia (4,6) adalah yang paling sibuk menangani penipuan dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Australia dan Selandia Baru, masing-masing dengan angka 3 dan 3,1.
- Menurut perusahaan-perusahaan jasa keuangan, pasar-pasar bertumbuh cepat seperti Indonesia memiliki resiko tinggi dalam penipuan apliaksi kredit (86 persen), sementara China (70 persen) dan Malaysia (65 persen) memiliki resiko penipuan yang terjadi karena transaksi perbankan online.
- Perusahaan-perusahaan jasa keuangan Indonesia hamper seluruhnya setuju (86 persen) dalam mengatakan penipuan aplikasi kredit sebagai area pertumbuhan nomor 1.
- 2Checkout, sebuah perusahaan transaksi online yang mengawasi transaksi-transaksi terhadap penipuan, melakukan berbagai pengujian statistic untuk menganalisa aktivitas penipuan. Perusahaan ini menempatkan Indonesia dalam posisi terendah di indeks dunia, dengan angka yang terpaut cukup jauh.
- Langkah-langkah yang diambil perusahaan-perusahaan Indonesia dalam mencegah penipuan memiliki keunggulan dibanding perusahaan-perusahaan Asia Tenggara lainnya, dalam hal pengaruh ke proses orientasi pelanggan.
“Sayangnya meskipun banyak perusahaan terkemuka sudah memiliki langkah-langkah pencegahan penipuan, langkah-langkah tersebut harus lebih diperkuat, karena secara konstan harus mengimbangi mitigasi resiko dengan pengaruh dan gangguan terhadap pelanggan. Dengan adopsi cepat akan perdagangan elektronik dan mobile, negara-negara dengan perkembangan cepat sekarang menghadapi resiko serangan penipuan dalam jumlah dan jenis yang semakin banyak. Biaya-biaya keuangan, yang dihadapi perusahaan-perusahaan di hampir semua segmen industri, jumlahnya signifikan, dan resiko terhadap reputasi bahkan lebih berat lagi,” kata Jeff Price, Managing Director of South East Asia, Experian.
“Kabar baiknya adalah pelanggan tidak terlalu terganggu oleh langkah-langkah keamanan perusahaan. Perusahaan-perusahaan Indonesia mungkin kena pengaruh kuat dari penipuan, tapi mereka tidak menganggap langkah-langkah pencegahan mengganggu pelanggan. Namun seiring meningkatnya kecanggihan penipuan, tanggung jawab perusahaan adalah untuk melakukan evaluasi ulang, menemukan ulang dan menginovasikan langkah-langkah pencegahan penipuan untuk tetap di depan ancaman penipuan,” lanjut Price. “Jika tercapai, hasilnya adalah penangkapan yang lebih baik akan aktivitas penipuan sekaligus mempertahankan tingkat kepercayaan antara konsumen dan perusahaan.”
Meratanya penyebaran di Asia Pasifik merupakan hasil tambahan yang tidak diharapkan dari pertumbuhan. Perusahaan-perusahaan yang tadinya merasa nyaman dalam menangkap aktivitas penipuan terisolasi sekarang harus melihat ulang strategi mereka untuk menghasilkan solusi yang lebih kuat untuk memastikan mereka bisa mengatasi masalah, yang terus berkembang dan semakin parah, dalam lansekap penipuan di Asia Pasifik.
Asia Pacific Fraud Report selengkapnya bisa diunduh di sini.














