ASUS ProArt dan Teknologi XR Dukung Pembuatan Film Pelangi di Mars
Film Sci-Fi karya lokal Pelangi di Mars sudah hadir di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026. Film ini membawa cerita yang cukup jarang diangkat oleh perfilman lokal, yaitu kehidupan manusia di luar Bumi, tepatnya di Planet Mars pada tahun 2090.

Kisahnya mengikuti seorang anak yang menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Mars. Premis ini membuka ruang eksplorasi yang luas, mulai dari kehidupan sehari-hari di planet lain hingga dinamika emosional yang muncul dari kondisi tersebut. Nuansa petualangan dan imajinasi jadi daya tarik utama yang ditawarkan film ini.
Di balik visualnya, film ini tidak hanya mengandalkan teknik produksi konvensional. Tim produksi menggunakan teknologi Extended Reality atau XR serta metode hybrid yang menggabungkan pengambilan gambar nyata dengan lingkungan virtual tiga dimensi.
Baca Juga: YouTube Akan Minta Penonton Berikan Label pada Konten yang Dicurigai AI • Jagat Review
Untuk mendukung proses tersebut, ASUS ikut terlibat dengan menghadirkan lini ProArt yang ditujukan untuk kebutuhan kreator profesional. Perangkat ini digunakan dalam berbagai tahap produksi, mulai dari pembuatan aset visual, rendering lingkungan 3D, hingga color grading agar hasil akhir tetap konsisten.

Kolaborasi ini juga melibatkan Mahakarya Pictures dan DOSS Guava XR Studio, terutama dalam penerapan virtual production. Teknologi ini memungkinkan tim produksi menampilkan lingkungan digital secara real-time saat syuting, sehingga visual planet Mars bisa langsung terlihat tanpa menunggu proses pascaproduksi.
Pelangi di Mars juga menjadi debut film panjang bagi sutradara Upie setelah sebelumnya dikenal lewat karya dokumenter dan video musik. Proses produksinya pun tidak singkat, memakan waktu lebih dari lima tahun hingga akhirnya siap tayang ke publik.
Dari sisi pemain, film ini menghadirkan deretan nama seperti Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Myesha Lin, dan Livy Renata. Selain itu, ada juga pengisi suara untuk karakter robot seperti Bimo Kusumo dan Kristo Immanuel yang ikut memperkuat dunia futuristik dalam cerita. Film ini sudah diperkenalkan melalui gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta.

















