Jepang Uji Coba Data Center Modular di Bawah Jalur Kereta Aktif
Empat perusahaan dalam grup Tokyu Group mulai menguji konsep data center yang terbilang sangat unik. Mereka berencana menempatkan modular data center tepat di bawah jalur kereta aktif di Tokyo, dengan uji coba dimulai Juni 2026.

Proyek ini melibatkan Tokyu Corporation, Tokyu Electric Railway, It’s Communications Corporation, dan Tokyu Construction. Masing-masing punya peran berbeda, dari penyedia lokasi di bawah rel, pengembangan unit modular, sampai konektivitas fiber.
Tujuan Uji Coba Data Center Modular
Tujuan uji coba ini yaitu untuk mengetahui bagaimana server data center modular ini bisa benar-benar berjalan stabil di lingkungan ekstrem seperti bawah rel kereta. Getaran konstan, suhu yang berubah-ubah, dan kebisingan jadi tantangan utama. Karena itu, mereka akan mengukur kemampuan isolasi suara, isolasi panas, sistem peredam getaran, sampai performa pendinginan.
Unitnya sendiri berbentuk seperti kontainer, sudah berisi server, sistem pendingin, dan suplai daya dalam satu paket. Artinya, tidak perlu bangun gedung baru. Tinggal ditempatkan di ruang kosong yang selama ini kurang dimanfaatkan, seperti area di bawah jalur layang.
Baca Juga: Tak Cuma Jual Desain, Arm Kini Bikin Chip Sendiri: Arm AGI CPU! • Jagat Review
Salah satu alasan kenapa konsep ini menarik ada di sisi jaringan. It’s Communications Corporation sudah punya jaringan fiber optik yang mengikuti jalur rel. Jadi data center bisa langsung terhubung tanpa perlu tarik kabel baru, yang biasanya mahal dan makan waktu di kota padat seperti Tokyo.
Kalau uji coba ini berhasil, peluang skalanya cukup besar. Jaringan rel Tokyu tersebar luas, termasuk area seperti Shibuya yang punya kebutuhan data tinggi. Artinya, ruang-ruang kecil yang sebelumnya tidak terpakai bisa berubah jadi node infrastruktur digital.
Saat ini tokyo sedang menghadapi keterbatasan lahan dan listrik untuk data center. Menurut NTT Global Data Centers, antrean koneksi listrik di pusat kota bisa sampai 5 sampai 10 tahun. Di sisi lain, harga tanah naik drastis dan jumlah data center terus bertambah.
Model seperti ini sejalan dengan tren data center skala menengah yang tumbuh lebih cepat karena bisa dibangun lebih fleksibel di ruang terbatas. Jadi bukan hanya soal inovasi unik, tapi juga cara baru untuk memanfaatkan ruang kota yang sudah sangat padat.
Kalau menurut kalian, konsep data center di bawah rel seperti ini cukup masuk akal untuk kota besar lain, atau terlalu berisiko karena faktor lingkungan?
















