Ilmuwan Berhasil Pertahankan Otak Manusia Tetap “Hidup” di Luar Tubuh
Para peneliti berhasil mempertahankan otak manusia yang telah meninggal agar tetap berfungsi sebagian menggunakan sistem penopang buatan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas obat-obatan bagi penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, dan ALS dalam kondisi yang jauh lebih realistis. Dengan begitu, kandidat obat baru bisa dipelajari secara jauh lebih presisi sebelum diuji pada manusia secara langsung.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Bexorg, perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, menggunakan platform bernama BrainEx untuk mempertahankan fungsi otak manusia. Platform ini mengalirkan cairan khusus sebagai pengganti darah yang bertugas memasok oksigen, membuang limbah metabolisme, dan menjaga proses biologis penting tetap berjalan. Menariknya lagi, sistem ini juga meniru fungsi paru-paru dan ginjal secara artifisial agar kondisi otak tetap stabil.
Baca Juga: ASUS Luncurkan All-in-One PC dengan SoC Snapdragon
Lewat teknologi ini, para peneliti bisa menguji berbagai obat dan mengukur efeknya secara langsung ke jaringan otak manusia. Menurut Bexorg, metode ini punya keunggulan besar dibanding uji coba menggunakan hewan atau kultur sel biasa. Hal ini karena otak manusia menyimpan riwayat penyakit, karakteristik genetik, pengaruh lingkungan selama puluhan tahun, dan jejak pengobatan sebelumnya yang jauh lebih kompleks dan akurat.
Kontroversi di Balik Penelitian Menggunakan Otak Manusia
Meski dianggap sebagai terobosan medis, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan etika di balik penelitian ini. Para kritikus khawatir bahwa otak-otak tersebut tidak sepenuhnya mati, tapi juga tidak benar-benar hidup. Selain itu mereka menilai ada kemungkinan bentuk kesadaran atau persepsi rasa sakit yang masih tersisa dalam otak yang digunakan.
Menanggapi kekhawatiran ini, Bexorg menegaskan bahwa aktivitas listrik otak yang terkoordinasi sebagian besar tidak terdeteksi yang secara teoritis mengesampingkan adanya kesadaran atau rasa sakit. Selain itu, anestesi seperti Propofol juga digunakan dalam proses penelitian untuk meminimalkan risiko aktivitas otak yang tidak diinginkan. Menurut kalian gimana, apakah terobosan seperti ini layak didukung demi kemajuan medis?


















