Politisi Amerika Wacanakan RUU Perlindungan Kepemilikan Game

Reading time:
October 17, 2026

amerika

Politisi Amerika Serikat mengajukan RUU Power To The Players Act untuk memperkuat hak gamer atas game digital yang telah dibeli.
Membeli game secara digital memang menawarkan kemudahan untuk gamer, terutama di dalam era internet yang telah maju seperti saat ini. Namun, ada satu masalah besar di sana, yaitu membeli game digital tidak berarti memilikinya seperti game fisikal, karena gamer hanya menyewa izin untuk menggunakannya. Akibatnya, penyedia layanan dapat secara sepihak mengakhiri izin itu tanpa pemberitahuan. Persoalan ini kembali menjadi sorotan di Amerika Serikat setelah anggota parlemen Ritchie Torres mengumumkan Power To The Players Act, rancangan undang-undang yang bertujuan memperkuat hak konsumen atas game yang mereka beli. Usulan ini muncul ketika industri yang semakin beralih ke distribusi digital sedang menghadapi dorongan penolakan dari gamer, terutama karena mengakhiri distribusi fisikal. [caption id="attachment_169184" align="aligncenter" width="1372"]amerika Ritchie Torres[/caption] RUU untuk Amerika yang diumumkan pada 15 Oktober 2026 tersebut akan mengarahkan Federal Trade Commission (FTC), lembaga perlindungan konsumen Amerika Serikat, untuk menyusun aturan yang melindungi kemampuan gamer dalam memiliki dan memainkan game yang telah dibeli. Torres menilai konsumen seharusnya memiliki hak untuk memainkan serta memindahtangankan game mereka, bukan kehilangan akses hanya karena perusahaan memutuskan menghentikan layanan. Namun, proposal ini masih berupa rencana legislasi, bukan hukum yang sudah berlaku. Salah satu contoh yang dibahas oleh Torres adalah NBA 2K25. Game tersebut dijadwalkan dihapus dari toko digital pada 30 Oktober 2026, sementara server daringnya akan ditutup pada 31 Desember 2026, hanya sekitar dua tahun setelah peluncurannya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai nilai pembelian game yang masih relatif baru, ketika dukungan daring berakhir dan sejumlah fitur atau akses permainan ikut terdampak. Kasus The Crew juga menjadi gambaran nyata persoalan tersebut. Ubisoft mematikan server game balapan itu pada 2024, membuat game tersebut tidak lagi dapat dimainkan, bahkan untuk mode single player sekalipun. Peristiwa ini ikut mendorong gerakan Stop Killing Games, yang memperjuangkan agar game yang ditinggalkan pengembang tidak serta-merta kehilangan seluruh fungsi bermainnya. Bagi konsumen, masalahnya bukan hanya game dihapus dari toko, tetapi juga apakah produk yang sudah dibayar masih bisa digunakan setelah layanan dihentikan. Amerika Serikat sebenarnya sudah memiliki langkah perlindungan terkait transaksi digital di tingkat negara bagian. California, misalnya, memberlakukan AB 2426 sejak Januari 2025 untuk mewajibkan pengungkapan yang jelas ketika konsumen sebenarnya membeli lisensi digital, bukan kepemilikan penuh atas produk. Steam juga telah menampilkan pemberitahuan bahwa pembelian game memberikan lisensi penggunaan. Namun, aturan mengenai transparansi transaksi tersebut berbeda dari usulan baru yang berupaya melindungi hak konsumen untuk tetap memainkan game yang telah dibeli. Jika Power To The Players Act benar-benar disahkan di Amerika Serikat dan menghasilkan aturan yang efektif, dampaknya dapat meluas secara global ke cara publisher mengelola game digital setelah masa dukungannya berakhir. Meski begitu, detail kewajiban yang nantinya diterapkan masih bergantung pada isi rancangan dan proses legislasi berikutnya. Perdebatan ini memperlihatkan persoalan mendasar dari ekosistem game digital; konsumen mengeluarkan uang untuk sebuah produk dengan harga full game, tetapi kendali atas aksesnya masih berada di tangan pemegang lisensi. Perlindungan yang lebih kuat bisa menjadi langkah penting, tetapi pertanyaan mengenai cara mempertahankan game online tanpa dukungan pengembang tetap membutuhkan solusi teknis dan aturan yang jelas. Menurut Anda, apakah publisher harus diwajibkan menyediakan mode offline ketika server sebuah game ditutup?
Load Comments

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

October 6, 2026 - 0

Review MSI Titan 18 HX Dragon Edition Draco Epic: Laptop Super Kencang Pengganti PC Desktop

Sudah nggak butuh PC Desktop kalau punya Laptop “Monster” yang…
October 1, 2026 - 0

Review ASUS TUF Gaming 16 (FX610JH): Laptop Gaming Paling Worth It dari TUF?

Butuh laptop gaming yang cocok dipakai buat kerja sampai kuliah?…
September 25, 2026 - 0

Review Axioo Hype 5 AMD X6-11: Prosesor Kenceng, RAM 16 GB LPDDR5, Harga Rp 8 Jutaan?

Ini adalah laptop thin and light terbaru dari Axioo yang…
September 23, 2026 - 0

Review ADVAN Air Neo: ADVAN Punya Laptop Super Ringan?

Ini adalah laptop Ultra Thin – Ultra Light terbaru dari…

Gaming

October 19, 2026 - 0

ASUS ROG Bulwark Dock DG310 Ubah ROG Xbox Ally Jadi Console 4K 144Hz

ASUS ROG Bulwark Dock DG310 berikan akses untuk ubah handheld…
October 19, 2026 - 0

Modder Bawa DLSS 5 Versi Baru ke Game yang Belum Didukung

Modder menguji model DLSS 5 terbaru di Forza Horizon 6…
October 19, 2026 - 0

Sony Patenkan Teknologi Prediksi Frame untuk Kurangi Input Lag

Sony mematenkan teknologi prediksi frame untuk PlayStation untuk kurangi input…
October 19, 2026 - 0

Fanatec & Trak Racer Pamerkan Setir Sim Racing Generasi Baru

Fanatec dan Trak Racer pamerkan Project Obsidian sebagai konsep pengembangan…