Facebook dan Twitter Merusak Keindahan Natal
Munculnya situs media sosial, terutama Facebook dan Twitter, dinilai merusak nilai yang terkandung dalam hari raya keagamaan. Seorang pendeta di Liverpool, Inggris mengungkapkan bahwa kini masyarakat lebih memilih untuk mengirimkan ucapan melalui media sosial dibandingkan mengirimkan kartu ucapan untuk peringatan hari raya, seperti Natal. Menurut apa yang dirasakan oleh pendeta tersebut, hal-hal seperti itu pada akhirnya merusak keindahan Natal.

Pendeta tersebut, Paul Bayes, mengungkapkan bahwa dirinya merasa rindu terhadap masa-masa beberapa tahun lalu dimana umat saling berkirim kartu ucapan di hari Natal. Sebagai upaya untuk tetap melestarikan tradisi tersebut, dirinya mencoba untuk tetap mengirimkan kartu Natal kepada sekitar 600 kerabatnya di akhir tahun 2014 ini. Dia tidak peduli terhadap pandangan berbagai orang terkait kesan “kuno” yang melekat dengan tetap mengirimkan kartu tersebut karena baginya kartu ucapan seperti itu masih memiliki nilai lebih tersendiri dibandingkan ucapan melalui media digital.
Masih menurut pendeta tersebut, dirinya tidak membenci Facebook dan Twitter, bahkan mengakui cukup aktif di salah satu media sosial tersebut. Namun, mengirimkan pesan melalui media sosial untuk suatu momen khusus seperti hari raya keagamaan bukanlah cara yang tepat. Oleh karena itu, demi menghargai nilai-nilai yang ada di masa lalu, dirinya bersikeras untuk terus menajutkan tradisi kartu Natal.
Bagaimana pendapat Anda terhadap hal ini? 🙂
















