Program Apple Security Bounty Banjir Laporan, Kini Dibatasi
Kecerdasan buatan kini bukan cuma membantu programmer menulis kode, tetapi juga menemukan celah keamanan. Masalahnya, jumlah laporan celah keamanan yang dihasilkan AI kini justru membuat Apple kewalahan di program Apple Security Bounty mereka.

Apple resmi mengubah aturan Apple Security Bounty, program yang memberikan hadiah kepada peneliti keamanan yang berhasil menemukan celah pada produk dan layanannya. Perusahaan kini membatasi jumlah laporan yang bisa dikirim setiap peserta melalui portal keamanan internal.
Tak hanya itu, Apple juga menerapkan masa tunggu selama 30 hari setelah peserta mencapai batas pengiriman. Jika ingin mengirim laporan lebih banyak, peserta harus mengajukan permintaan khusus kepada Apple.
Perubahan ini dilakukan setelah tim peninjau Apple dibanjiri laporan bug yang ditemukan menggunakan bantuan AI. Akibatnya, proses verifikasi menjadi lebih berat, sementara temuan dari peneliti keamanan yang melakukan riset secara manual berisiko tenggelam di antara ribuan laporan serupa.
Baca Juga: Aturan Baru Uni Eropa Soal Transparansi AI
Apple Security Bounty, Program Mencari Celah Keamanan Berhadiah Jutaan Dollar
Apple Security Bounty sendiri merupakan program yang memberikan hadiah uang kepada peneliti keamanan yang melaporkan celah secara bertanggung jawab. Untuk kerentanan paling kritis, nilai hadiahnya bahkan bisa mencapai USD 2 juta.
Sejumlah peneliti keamanan sudah pernah memperoleh hadiah dari program ini. Di antaranya Ryan Pickren yang menemukan beberapa celah pada Safari dan iCloud, Bhavuk Jain yang mengungkap bug pada Sign in with Apple, hingga Sam Curry dan David Schütz yang juga beberapa kali menerima bug bounty dari Apple berkat temuan mereka.
Apple bukan satu-satunya perusahaan yang mulai menyaring laporan akibat maraknya AI. Google juga telah memperbarui program bug bounty miliknya dengan memberikan imbalan lebih besar untuk bug yang kompleks, dibanding celah sederhana yang kini lebih mudah ditemukan menggunakan AI.
Menurut kalian, apakah pembatasan seperti ini memang diperlukan agar kualitas laporan tetap terjaga, atau justru bisa membuat peneliti keamanan enggan melaporkan temuan mereka?













