Kenapa 5G Belum Merata di Indonesia? Ini Alasannya
Kenapa 5G belum merata di Indonesia? Banyak orang di Indonesia yang sudah memiliki hape 5G. Namun, saat dipakai, ikon 5G tidak selalu muncul di semua tempat. Hal tersebut wajar terjadi karena jaringan ini memang masih belum merata di Indonesia. Jika sudah merata, ke manapun pergi, hape kalian akan selalu terhubung ke jaringan 5G.

Jaringan 5G sebenarnya sudah komersial sejak tahun 2021 di Indonesia. Saat ini, operator di Indonesia juga sudah mulai menghadirkan jaringan tersebut di berbagai wilayah. Meski begitu, memang belum semua daerah sudah kebagian jaringan 5G. Di area tertentu, 5G mungkin sudah tersedia. Tetapi begitu pindah lokasi, hape bisa kembali ke 4G.
Lantas, kenapa 5G belum merata di Indonesia? Kenapa pembangunan 5G belum semerata 4G?
Kenapa 5G Belum Merata?

Well, masalah tersebut bukan semata-mata karena operator. Ada masalah teknis dan ekonomi yang membuat operator tidak bisa langsung menghadirkan jaringan 5G di seluruh wilayah Indonesia.
Jaringan 5G sendiri masih relatif baru dibandingkan 4G yang sudah komersial sejak Desember 2014 silam. Proses pembangunan jaringan 4G setidaknya sudah dilakukan selama bertahun-tahun lebih dulu dibandingkan 5G.
Operator juga tidak bisa langsung mengganti dukungan jaringan dari 4G ke 5G dengan mudah. Tidak sesederhana update software kemudian sebuah BTS sudah bisa langsung memancarkan sinyal 5G. Ada banyak hal teknis yang mesti disiapkan operator untuk itu.
Jaringan 5G justru membutuhkan infrastruktur yang lebih padat pada frekuensi tertentu agar bisa bekerja. Jadi, meskipun satu kota sudah punya 5G, bukan berarti setiap sudut kota otomatis punya sinyal 5G. Kondisi ini juga menjadi salah satu alasan kenapa ikon 5G tidak muncul meski hape kalian sebenarnya sudah mendukung jaringan tersebut.
Gampangnya gini, 4G itu seperti jalan tol yang sudah dibangun dan diperpanjang selama bertahun-tahun. Sementara 5G masih berupa jalan tol baru yang masih terus diperluas setiap harinya.
Baca Juga: Apakah 5G Bikin Hape Panas?
Frekuensi 5G Memengaruhi Jangkauan

Poin ini akan sedikit teknis, tetapi kami akan memberikan penjelasan sesederhana mungkin. Untuk memancarkan sinyal 5G, tiap operator memiliki frekuensi masing-masing. Anggap saja operator tersebut punya kontrakannya sendiri-sendiri.
Nah, frekuensi yang digunakan operator biasanya terdiri dari frekuensi rendah hingga lebih tinggi. Frekuensi rendah memiliki jangkauan lebih luas dan penetrasi bangunan lebih baik, tetapi bandwidth-nya biasanya lebih terbatas alias tidak sekencang itu. Sementara frekuensi lebih tinggi punya bandwidth lebih besar dan bisa menawarkan kecepatan tinggi, tetapi jangkauannya lebih pendek dan lebih mudah terhalang. Perbedaan karakter tersebut juga bisa membuat 5G kadang lebih lambat dari 4G, terutama ketika kualitas sinyal 5G tidak sebaik jaringan 4G di lokasi yang sama. Menurut GSMA, penggunaan spektrum low-, mid-, dan high-band memang memiliki karakteristik berbeda dari sisi jangkauan dan kapasitas.
5G dengan kecepatan sangat tinggi belum tentu punya coverage luas. Ini menjelaskan kenapa di satu tempat 5G bisa sangat kencang. Tetapi beberapa ratus meter kemudian bisa hilang.
Jadi, 5G yang tidak merata bisa saja terjadi karena penggunaan frekuensi yang berbeda-beda. Operator tentu sudah mengatur konfigurasi terbaik untuk tiap BTS agar jaringan 5G yang ada optimal di suatu daerah.
Misalkan, buat apa mereka menghadirkan frekuensi tinggi di area yang luas dan membutuhkan cakupan besar? Dalam kondisi tertentu, operator bisa lebih memilih frekuensi yang jangkauannya lebih luas agar lebih banyak orang bisa merasakan jaringan 5G.
Membangun Jaringan 5G Butuh Infrastruktur

Untuk membangun jaringan 5G, operator butuh membangun infrastruktur. Operator tidak hanya sekadar memasang “alat 5G” di BTS untuk mengaktifkan jaringan tersebut. Ada perangkat radio, antena, backhaul, jaringan inti, listrik, kabel fiber, dan masih banyak lagi. Tentunya, ini membutuhkan biaya investasi yang tidak sedikit.
Agar coverage bisa luas, jumlah site atau infrastruktur yang dibutuhkan tentu bisa bertambah. Ini masih ada kaitannya dengan poin frekuensi. Apabila operator memutuskan untuk menghadirkan 5G di frekuensi tinggi, berarti mereka bisa membutuhkan lebih banyak BTS atau site untuk mencakup wilayah yang sama.
Ini balik lagi ke masalah ekonomi. Semakin banyak infrastruktur, berarti biaya pembangunan dan operasional juga akan bertambah.
Oleh karena itu, operator harus menentukan wilayah prioritas. Misalnya, kota dengan banyak pengguna internet dan trafik data tinggi kemungkinan lebih menarik untuk menjadi prioritas dibandingkan wilayah dengan jumlah pengguna yang lebih sedikit.
Baca Juga: Apakah 5G Boros Baterai? Ini Penjelasannya
Kenapa 4G Lebih Merata?

Jawaban sederhananya, jaringan 4G sudah jauh lebih lama. Oleh karena itu, infrastruktur 4G sudah tersebar luas. Operator tentunya sudah punya banyak BTS 4G.
Kalau dihitung dari pertama kali jaringan 4G dikomersialkan di Indonesia pada 2014, operator sudah memiliki waktu bertahun-tahun untuk memperluas cakupannya. Sementara itu, 5G baru mulai dikomersialkan pada 2021.
Artinya, jangan membandingkan jaringan 4G yang infrastrukturnya sudah dibangun selama lebih dari satu dekade dengan 5G yang masih dalam tahap pengembangan.
Selain itu, 4G memang masih menjadi jaringan utama yang digunakan banyak orang. Karena itu, operator tetap perlu mempertahankan dan mengembangkan jaringan 4G sembari membangun jaringan 5G.
Jadi, bukan berarti ketika 5G hadir, seluruh infrastruktur 4G langsung tidak diperlukan lagi. Keduanya masih bisa berjalan berdampingan.
Apakah 5G Akan Diperluas?

Kemungkinan besar iya. Jaringan 5G masih terus dikembangkan oleh operator di Indonesia. Seiring bertambahnya jumlah perangkat yang mendukung 5G dan kebutuhan terhadap koneksi internet berkecepatan tinggi, kebutuhan terhadap jaringan tersebut juga bisa semakin besar.
Namun, pemerataan 5G kemungkinan tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Operator perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum membangun jaringan di sebuah wilayah, mulai dari jumlah pengguna, kebutuhan trafik data, ketersediaan infrastruktur, kondisi geografis, hingga biaya pembangunan.
Karena itu, wilayah dengan jumlah pengguna dan kebutuhan data yang tinggi kemungkinan akan menjadi prioritas terlebih dahulu. Setelah itu, jaringan dapat diperluas ke wilayah lainnya secara bertahap.
Jadi, kalau saat ini kalian tinggal di daerah yang belum mendapatkan 5G, bukan berarti jaringan tersebut tidak akan pernah hadir di sana. Bisa saja operator memang belum menjadikan wilayah tersebut sebagai prioritas pembangunan.
Kesimpulan
Jadi, kenapa 5G belum merata di Indonesia? Jawabannya bukan hanya karena satu faktor. Ada berbagai hal yang memengaruhinya, mulai dari usia jaringan yang masih lebih muda dibandingkan 4G, karakter frekuensi yang digunakan, kebutuhan infrastruktur yang lebih padat pada kondisi tertentu, hingga biaya pembangunan jaringan.
4G juga sudah memiliki keunggulan dari sisi usia. Jaringan tersebut sudah dikomersialkan sejak 2014 sehingga operator punya waktu jauh lebih lama untuk membangun dan memperluas infrastrukturnya.
Sementara itu, 5G masih terus dikembangkan secara bertahap. Jadi, wajar jika saat ini ada wilayah yang sudah mendapatkan 5G, tetapi wilayah lainnya masih mengandalkan 4G.
Dengan kata lain, kalau hape 5G kalian tiba-tiba kembali ke 4G ketika berpindah tempat, belum tentu ada masalah pada hape. Bisa saja memang wilayah tersebut belum memiliki cakupan 5G yang cukup. Jika kalian mengalami kondisi tersebut, kalian juga bisa membaca penjelasan mengenai kenapa 5G kadang turun ke 4G yang sudah kami bahas sebelumnya.
Sudah tahu kan kenapa 5G belum merata di Indonesia?
















