Kenapa Adopsi 4G di Negara Berkembang Asia Lamban?

Author
Ozal
Reading time:
August 18, 2013
LTE 4G 3

Tahun lalu, sebanyak 63 persen perusahaan telekomunikasi di hampir semua negara Asia, menyatakan ketertarikannya mengembangkan layanan data mobile LTE 4G. Ini membuktikan, LTE 4G merupakan hal baru yang paling penting dalam ruang telekomunikasi di Asia. Negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang yang paling cepat dalam mengadopsi teknologi berkecepatan 75MBps itu. Lantas, bagaimana dengan yang ada di pasar negara berkembang di Asia?

Tahun ini, pertumbuhan sebesar 34,6 juta pelanggan LTE di Asia-Pasifik dari total 3,45 miliar pelanggan mobile di Asia, membuat adopsi 4G masih jauh dari harapan sukses.

Leslie Shannon, manajer pemasaran srategis LTE di Nokia Solutions and Network (NSN) mengatakan, hal pertama munculnya perlambatan 4G di wilayah tersebut, yakni edukasi konsumen. Mereka cenderung tidak terlalu tahu banyak ataupun apatis mengenai LTE 4G. Sebagian besar pengguna seluler juga tidak peduli apakah mereka menggunakan LTE atau apakah ponselnya mampu mengakses jaringan 4G. Umumnya, mereka hanya peduli tentang bagaimana operator telekomunikasi mampu menyediakan cakupan sinyal, konsistensi, dan kecepatan yang masih wajar alias tidak lelet.

LTE 4G

“Untuk tujuan beberapa orang, 3G atau bahkan 2G akan cukup. Mungkin saat itu, akan menjadi penting bagi pengguna ponsel untuk mengetahui, apa perbedaan LTE dalam membuat pengalaman mobile mereka,” ungkapnya, dilansir dari Tech in Asia.

Padahal, ada satu hal yang mesti diperhatikan di Asia ialah, konsumsi mengakses video streaming merupakan yang paling besar. Akhir-akhir ini, konsumen Asia semakin sering menggunakan ponselnya guna mengakses video streaming. Ini bisa menjadi faktor utama dalam meningkatkan adopsi LTE di wilayah tersebut. Tentunya, bila pengguna menggunakan LTE, maka akan menambah pengalamannya dalam hal mengakses video streaming yang lebih cepat dan berkualitas tinggi. Sebab, kecepatan data 4G bisa sepuluh kali lipat, dibanding kecepatan 3G atau 3,5G yang hanya mampu menyentuh angka 7,2Mbps.

Perangkat mobile yang mengusung LTE, lanjut Leslie, umumnya menawarkan harga yang tinggi. Ini juga bisa menjadi hambatan terbesar untuk pasar negara berkembang di Asia. Menurutnya, perubahan besar-besaran akan terjadi, bila perangkat yang mendukung LTE menjadi lebih mudah diakses.

Markku Niemen, Country Manager di NSN Filipina menambahkan, “Jika Anda melihat 3G, harga perangkat (smartphone pendukung) sudah banyak diturunkan. Saya pikir, ini akan menjadi tidak berbeda untuk perangkat pendukung LTE,”

Ia menambahkan, sementara konsumen Asia masih menunggu smartphone pendukung menjadi lebih murah, itu bukan berarti mereka tidak dapat menikmati kecepatan setara LTE 4G. Menurutnya, perangkat portabel seperti Mi-Fi, dapat menjadi cara baru bagi konsumen untuk merasakan kecepatan LTE. Tentu tanpa harus membeli sebuah smartphone LTE. Perangkat tersebut dibanderol di kisaran US$ 50 – US$ 90 (https://jagatreview.pages.dev/2012/10/zte-mf70-modem-usb-pintar-yang-dilengkapi-fitur-mini-wifi-mifi/). Beberapa perusahaan telekomunikasi di Asia juga sudah mulai menawarkan bundel perangkat Mi-Fi.

“Dengan menggunakan perangkat Mi-Fi dengan kartu SIM LTE, pengguna tidak perlu memiliki sebuah smartphone pendukung LTE,” imbuh Leslie.

Meskipun terjadi berbagai hambatan, pada akhir tahun nanti diharapkan pelanggan LTE di Asia sudah meningkat hingga 72,1 juta pengguna. Selain itu, jika smartphone pendukung LTE datang dengan harga yang lebih murah, bukan hal tidak mungkin, adopsi LTE di Asia menjadi semakin cepat. Harga smartphone LTE umumnya masih dibanderol di kisaran US$ 600 – US$ 900.

 

Share
Load Comments

Gadget

October 19, 2025 - 0

Review Infinix GT 30: Smartphone Gaming Padahal Aslinya All-Rounder!

Ini adalah Infinix GT 30! Ya, hape ini adalah versi…
July 10, 2025 - 0

Fossil Hadirkan Dua Jam Tangan Kolaborasi Marvel Fantastic Four

Fossil mengumumkan hadrinya dua jam tangan eksklusif hasil kolaborasi Marvel…
June 18, 2025 - 0

Review “Singkat” Samsung Galaxy S25 Edge: Smartphone Pemicu Pro-Kontra! Sebaik/Seburuk Itu?

Ini hape yang memicu Pro-kontra.  Banyak orang, bahkan kami pun…
June 17, 2025 - 0

Review Amazfit Active 2 Square: Smartwatch “Kotak” yang Klasik, Canggih, dan Baterai Awet!

Kalian sedang cari smartwatch bentuk kotak yang canggih, baterai irit,…

Laptop

July 22, 2026 - 0

Review Zyrex D-Tech: Rp 6 Jutaan, AMD Ryzen Quad-Core, Bisa Upgrade, Tapi…

Harga RAM naik, harga SSD naik, harga Laptop ikut naik.…
July 20, 2026 - 0

Review Axioo Hype AMD X1: Terjangkau, Kencang, & Aman Kalau Dimaling

“Kalau punya duit 5 jutaan, dapat Laptop seperti apa?” “Bisa…
July 16, 2026 - 0

Review Dell Pro 14 Essential: Dell Bikin Laptop Bisnis Terjangkau? Performanya Gimana?

Dell jualan laptop bisnis terjangkau di Indonesia? Iya, kalian gak…
July 14, 2026 - 0

Review Lenovo IdeaPad Pro 5a (14AGP11): Desain Makin Mewah, Bodi Kokoh, Performa Mantap!

Kalau denger laptop dengan nama “Pro”, apa yang ada di…

Gaming

July 24, 2026 - 0

Philips Perkenalkan Monitor Gaming 4K QD-OLED 165 Hz

Philips meluncurkan monitor gaming Evnia 32M2N6901A dengan panel 4K QD-OLED…
July 24, 2026 - 0

Acer Predator Atlas 8 Ungkapkan Harga yang Sulit Dijangkau

Acer mengungkap harga Predator Atlas 8 mulai US$1.340 hingga hampir…
July 24, 2026 - 0

Valve Perbarui Wishlist & Gift Steam Menjadi Lebih Pintar

Valve memperbarui Steam dengan Wishlist yang lebih pintar serta sistem…
July 24, 2026 - 0

CEO SK Hynix Beri Peringatan, Krisis Memori Terburuk Diprediksi Terjadi di 2027

CEO SK Hynix memprediksi 2027 menjadi tahun terburuk bagi pasokan…